STRATEGI PENETAPAN HARGA TIKET MASUK DENGAN PENDEKATAN BIAYA PADA OBYEK PARIWISATA TMII

ABSTRAK

Kepariwisataan Indonesia merupakan penggerak perekonomian yang potensial untuk memacu pertumbuhan perekonomian yang lebih tinggi di masa yang akan dating. Pengelolaan yang professional mutlak dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah produk wisata yang baik, salah satunya adalah tata kelola keuangan yang didalamnya terdapat pentingnya strategi penetapan harga tiket.

DAT-TMII memiliki sumber daya keanekaragaman hayati ikan dan biota air tawar serta ekosistemnya. Dengan demikian DAT-TMII merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut.

Dengan menganalisis strategi harga menggunakan pendekatan biaya, maka didapatkan hasil bahwa dengan pendekatan biaya, harga tiket DAT-TMII adalah sebesar Rp. 515,78. Dan dengan harga tiket yang ditetapkan sekarang sebesar Rp.15.000,- margin yang didaptkan cukup besar. Dengan pendapatan dan kemampuan keuangan saat ini diharapkan pengelola DAT-TMII dapat lebih mengembangkan produk wisata yang dimiliki.

Kata Kunci: DAT-TMII, BEP, Strategi Harga

PENDAHULUAN

Kepariwisataan  Indonesia merupakan penggerak perekonomian nasional yang potensial untuk memacu pertumbuhan perekonomian yang lebih tinggi di masa yang akan dating karea Indonesia memiliki banyak sekali potensi wisata yang maksimal juga unguk Negara.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terbentang sejauh 5.120 km dari timur ke barat, 1.760 km dari utara ke selatan di sepanjang garis khatulistiwa dengan lebih dari 17.100 pulau yang 6.000 diantaranya sudah berpenghuni 300 ragam suku bangsa dan etnis, 742 bahasa dan dialek, dan memiliki 8 world heritage culture site bahkan menduduki peringkat daro 9 culture heritage dari 139 negara oleh WWF.

Dengan modal sedemikian kaya, sudah selayaknya jika Indonesia dapat mengembangkan potensi pariwisata dengan tata kelola yang biak dan professional. Secara empiris, sering ditemukan tempat-tempat wisata yang terbengkalai tanpa pengelolaan yang maksimal, banyak sampah, kelestarian flora dan fauna yang kurang terjaga, keadaan produk wisata yang rusak, informasi yang kurang memadai, infrakstruktur serta akomodasi yang sangat minim, dan sumber daya manusia yang kurang kemampuan dalam pelayanan dan mengelola sebuah obyek wisaya.

Pengelolaah yang profesiional mutlak dibuthkan untuk menghasilkan sebuah produk wisata yang baik, oleh karena itu pelatihan dan pendidikan bagi sumber daya manusia sebagai pengelolla obyek wisata, dibutuhkan juga biaya untuk operational yang meliputi biaya pemeliharaan, pengadaan dan pembaharuan sumber daya yang lain dalam obyek wisata serta sebuah manajemen yang solid untuk menyatukan semua sumber daya yang ada sehingga dapat menciptakan sebuah obyek wisata yang baik.

Harga tiket jual sangat berpengaruh terhadap pendapatan suatu obyek wisata, karena dari pendapatan tersebut nantinya akan dapat mendukung proses operasional pengelola obyek wisata. Tingkat harga yang ditetapkan mempengaruhi kuantitas yang terjual. Selain iru secara tidak langsung dipengerahui dan mempengaruhi biaya, dimana dalam konteks pendekatan biaya akan mempengaruhi biaya variable, biaya tetap dan dalam konteks penetapan strategi harga dipengaruhi oleh biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan efesiensi produk dan layanan yang akan diberikan serta strategi posisioning harga. Oleh karena itu penetapan harga dan stratreginya memegang peranan penting dalam setiap manajemen pengelolaan obyek wisata.

Taman Akurarium Air Tawar atau yang lebih dikenal dengan Dunia Air Tawar (DAT)-Taman Mini Indonesia Indah diresmikan pada tanggal 20 April 1994, dibangun dua lantai seluas 5.500 m persegi di tepi danau buatan yang merupakan kelanjutan menyatu padu dalam suatu tatanan lingkungan air tawar yang unik. Sebagai obyek wisata alam, DAT-TMII merupakan suatu kahasanah khas dengan tema “INDONESIA DAN DUNIA AIR TAWAR”.

Dalam pengelolaan obyek wisata belum diketahui metode yang jelas tentang bagaimana menetapkan harga tiket serta indicator apa saja yang dapat mempengaruhinya seperti biaya apa saja sebagai pendukung operasional kegiatannya dan pendapatan lainnya selaind ari penjualan tiket. Berapa harga yang dapat ditetapkan serta biaya apa saja dan sumber dana dari mana saja yang mempengaruhinya adalah permasalahan yang akan menjadi pembahasan pada penelitian ini.

TINJAUAN LITERATUR

Pengertian Pariwisata dan Wisatawan

Istilah pariwisata baru dikenal sekitar tahun 1958, yang sebelumnya menggunakan kata turisme atau tourisme. Dan sejak tahun 1958 lah kata pariwisata resmi dipadankan dengan dua kata serapan tersebut. Menurut Warpani dkk (2007) wisata berarti bepergian bersama – sama, bersenang – senang. Wisatawan berarti orang yang melakukan kegiatan wisata.

Berikut petikan beberapa definisi pariwisata menurut beberapa ahli :

  • Wahab (1992) memandang sebagai sebuah kegiatan kemanusian berupa hubungan antarorang baik dari Negara yang sama atau antar Negara atau hanya dari daerah geografis yag terbatas. Didalamnya termasuk tinggal untuk sementara waktu ditempat lain, Negara lain atau benua lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan kecuali kegiatan untuk memperoleh penghasilan, meskipun pada perkembangannya batasan memperoleh penghasilan tersebut menjadi kabur.
  • Menurut Hans Buchli, mendefinisikan pariwisata adalah setiap pengalihan tempat yang bersifat sementara dari seseorang atau beberapa orang dengan maksud untuk memperoleh pelayanan yang diperuntukkan bagi kepariwisataan itu oleh lembaga – lembaga yang digunakan untuk maksud tersebut.

Menurut Wahab (1992) pada dasarnya bagian – bagian dari gejala pariwisata terdiri dari tiga unsure yaitu:

  1. Manusia, unsur insane sebagai pelaku kegiatan pariwisata.
  2. Tempat, unsur fisik yang sebenarnya tercakup oleh kegiatan itu sendiri.
  3. Waktu, yaitu unsur tempo yang dihabiskan dalam perjalanan itu sendiri dan selama berdiam ditempat tujuan.

Kepariwisataan tidak menggejala sebagai bentuk tunggal. Istilah umum sifatnya yang menggambarkan beberapa bentuk perjalanan dan penginapan sesuai motivasi yang mendasari kepergian tersebut. Orang melakukan perjalanan untuk memperoleh berbagai tujuan dan memuaskan bermacam – macam keinginan.

Berdasarkan uraian diatas, pariwisata diklasifikasikan dalam beberapa bentuk, yaitu:

  1. Menurut jumlah orang yang bepergian, dibedakan antara :
  • Pariwisata individu, yaitu hanya seseorang atau satu keluarga berjumlah sedikit.
  • Pariwisata rombongan, yaitu sekelompok orang yang biasa terikat dalam sebuah hubungan tertentu.
  1. Menurut jumlah kapasitas pengunjungnya, dapat dibedakan menjadi :
  • Mass tourisme, yaitu pariwisata masal yang memungkinan banyak orang menikmati objek wisata tersebut.
  • Spesific tourisme, yaitu pariwisata minat khusus, yang tidak memungkinkan banyak orang masuk dan berpariwisata di tempat tersebut secara bersamaan.
  1. Menurut maksud bepergian, dibedakan menjadi :
  • Pariwisata rekreasi atau pariwisata santai, bepergian dengan maksud untuk memulihkan kepenatan.
  • Pariwisata social budaya, maksudnya adalah untuk memperkaya informasi dan pengetahuan tentang kehidupan social dan budaya disuatu daerah.
  • Pariwisata kesehatan, dimaksudkan sebagai sebuah terapi kesehatan di suatu daerah yang dipercaya terdapat fasilitas penyembuhan.
  • Pariwisata sport, untuk memuaskan hobby orang dibidang olah raga.
  • Pariwisata Temu Wicara, pariwisata konvensi yang mencangkup pertemuan – pertemuan ilmiah, seprofesi, dan bahkan politik.
  • Pariwisata religi, hal ini dilakukan dengan mengunjungi tempat – tempat keagaaman yang berada disuatu wilayah.
  1. Menurut letak geografisnya dibedakan menjadi :
  • Pariwisata Domestik Nasional, yang menunjukan arus wisata yang dilakukan oleh warga penduduk asing yang terbatas dengan suatu Negara tertentu.
  • Pariwisata Regional, yaitu kepergian wisatawan terbatas pada beberapa Negara yang membentuk suatu kawasan pariwisata.
  • Pariwisata Internasional. Pariwisata ini meliputi gerakan wisatawan dari satu Negara ke Negara lain di dunia.

 

Metode Analisis BEP

Menurut Prawirosentono (2007) Pada tahap perencanaan, manajemen harus menentukan terlebih dahulu tingkat produksi/ penjualan yang paling minimum agar perusahaan tidak rugi, dengan perkataan lain pada tahap awal perencanaan harus didasarkan pada kepada upaya jangan rugi atau minimum impas. Pengertian impas ini adalah bahwa total revenue perusahaan sama dengan total biaya yang dikeluarkan.

Analisis BEP dalam konteks menentukan harga tiket masuk objek pariwisata adalah sebuah analisis untuk menentukan  beberapa hal yaitu :

  • Jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan .
  • Dari estimasi rata – rata jumlah pengunjung, berapa harga yang dapat ditetapkan agar dapat menjaga balance antara total pendapatan dengan total biaya.
  • Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba.
  • Menjaga agar jumlah penjualan tidak boleh lebih kecil dari titik impas tersebut

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa titik impas (BEP) terjadi saat TR = TC. Dimana TR merupakan total pendapatan dan TC adalah biaya total.

Atau dalam rumus yaitu : 

P.Q = FC + Q(VC)

Dimana :

P                             : Price

Q                             : Kuantiti

FC                          : Fix Cost

VC                          : Variable Cost

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskritif yaitu dengan menggunakan data primer dan studi kepustakaan (library research). Instrumen penelitian  yaitu dengan data yang dikumpulkan untuk mendukung Penelitian Dampak Event Pariwisata dijaring dengan menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara dibuat untuk menjaring informasi dari pengelola event pariwisata. Teknik pengumpulan data dilakukan sesuai dengan alat surveinya, metoda yang digunakan untuk menjaring informasi dari informan dan responden dilakukan dengan cara wawancara mendalam dengan pengelola objek wisata : dilakukan secara tatap muka langsung dengan dipandu dengan pedoman wawancara yang telah disiapkan. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan cara menetapkan harga tiket objek wisata digunakan metode BEP (Break Event Point), dengan menggolongkan biaya menjadi dua macam yaitu, biaya variable dan biaya tetap. Dengan rumus BEP : P.Q = TFC + VC.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Objek Penelitian

Lebih dari 125 spesies ikan, crustacea dan kura-kura disajikan dalam suatu peragaan Taman Akuarium dengan lingkungan alamnya, dimana setiap tempat memiliki suatu jenis flora, di lain tempat memiliki kekhasan biota air tawar yang lain pula, sehingga keanekaragaman hayati mencerminkan pula beragam bentuk habitat dan ekosistem.

Beberapa jenis ikan air tawar asli Indonesia yang dikagumi di dunia antara lain Siluk/Arwana (Sclerophages formosus), Gurame (Osphorenemus gouramy), Ikan Sumpit (Toxotes jaculator), Labi-labi Albino (Trionyx sp), dan berbagai jenis spesies lainnya, yang unik Bujur Bosok (Muraena sp). Berbagai jenis ikan ‘tamu’ yang mempesona di antara lain Arapaima (Arapaima gigas), Piranha (Sarasalmus piraya), Ikan Paru (Protopteus aethiopicus), Ikan Buta (Anoptichtys jordani), Lele listrik (Malapterurus electricus), dan berbagai jenis spesies lainnya.

DAT-TMII merupakan no 2 terbesar dan terlengkap di dunia setelah amerika. Memiliki 23 akurium dinding, akuarium nusantara, lorong gurameh, kolam budidaya, kolam jamah, akuarium display, jembatan kaca, mini raiser, perpustakaan, foto corner, fish spa, auditorium, laboratorium.

Struktur Organisasi

Untuk dapat menjalankan tugas yang telah dibebankan, DAT-TMII memiliki

Struktur Organisasi sebagai berikut: Manajer adalah kepala yang membawahi tiga Asisten Manajer seperti Asisten Manajer Umum, Asisten Manajer Karantina danBudaya, dan Asisten Manajer Operasi dan sepuluh Supervisor yang diantaranya Supervisor TU, SDM, dan Perencanaan, Supervisor Keuangan dan Verifikasi, Supervisor RT dan Keamanan, Supervisor Mekanikal dan Elektrikal, Supervisor Karantina Penyakit dan Kualitas Air, Supervisor Pengembangan Budidaya, Supervisor Peraga, Supervisor Tiketing dan Pelayanan Pengunjung, Supervisor, Marketing danInformasi, dan Supervisor Perpustakaan.

Kegiatan Pengadaan Ikan DAT

Proses Sumbangan/Hibah

Proses awal yang dilakukan adalah dari pihak yang ingin menyumbang/menghibahkan ikan dapat menghubungi pihak DAT melalui telefon atau dengan cara mendatangi langsung ke DAT, setelah pihak pemberi sumbangan datang ke DAT, bagian Asisten Manajer Operasi akan menemui pemberi sumbangan untuk menilai apakah ikan dalam kondisi layak untuk masuk dalam koleksi atau tidak, jikalau layak selanjutnya asisten manajer operasi akan memberitahukan kepada bagian supervisor TU untuk membuat berita acara yang berisikan data pemberi sumbangan, jenis, jumlah ikan dan akan di beri stempel rangkap 2 untuk kedua pihak sebagai bukti bahwa pemberi sumbangan telah menyumbangkan ikan kepada pihak DAT.

Proses Pengadaan Pembelian

Proses di awali dengan bagian Asisten manajer mengecek mengenai koleksi ikan yang dimiliki oleh DAT, jikalau ingin menambah koleksi ataupun ada kondisi khusus seperti berkurang karena kondisi kematian atau pun tercuri. Proses selanjutnya bagian Asisten manajer mencari informasi mengenai spesifik ikan yang ingin di beli seperti harga, kualitas dan jarak daerah tempat penjual ikan, bagian TU memberikan nominal sejumlah uang yang diminta oleh bagian asisten manajer operasi untuk membeli ikan.

Proses selanjutnya adalah mengecek kondisi ikan yang telah dibeli, bukti pembelian dan pencatatan kondisi ikan akan dimasukan dalam buku inventaris DAT untuk di verifikasi apakah informasi mengenai pembelian dan pencatatan kondisi ikan sesuai dengan yang diberikan oleh bagian asisten manajer operasi, ikan selanjutnya akan di serahkan ke bagian Asisten Manajer Karantina dan Budidaya untuk di karantina agar ikan mudah beradaptasi sebelum masuk dalam akuarium peraga.

Proses selanjutnya ikan di beri nomer identifikasi untuk memudahkan mencatat perkembangan selama dalam karantina, pencatatan akan dimasukan ke dalam aset inventaris DAT dan ketika ikan telah beradaptasi maka akan di serahkan ke bagian Asisten Manajer Operasi untuk selanjutnya di masukan dalam akuarium peraga.

Proses Pembudidayaan

Dalam proses ini bagian Asisten manajer karantina dan budidaya melakukan kegiatan penambahan koleksi ikan untuk akuarium peraga serta untuk yang di jual sebagai ikan hias dan ikan konsumsi. Untuk proses penambahan koleksi ikan, bagian

Asisten manajer operasi akan memberitahukan kepada bagian TU untuk membuat berita acara berisikan data mengenai jenis ikan yang ingin di budidaya agar koleksi ikan akuarium peraga dapat bertambah dan digantikan jikalau terjadi kematian ataupun tercuri. Proses budidaya ikan yang untuk dijual dan di konsumsi berdasarkan keputusan pihak DAT menilai ikan apa saja yang akan dijual untuk menambah kas.

Pengunjung

                Jumlah kunjungan wisatawan ke DAT-TMII dari tahun ketahun mengalami fluktuasi. Data kunjungan wisatawan dari tahun 2007 – 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1 Data pengunjung tahun 2007–2011

BULAN/TAHUN

2007  

2008

2009

2010

2011

Januari

31,205

35,856

44,812

39,344

38,131

Februari

12,301

21,727

21,820

28,420

28,065

Maret

29,011

40,066

36,406

31,357

34,513

April

26.765

32,354

31,056

32,629

33,353

Mei

23,018

31.513

33,935

35,966

33,645

Juni

35,999

42,212

50,809

41,091

50,646

Juli

41,066

38,563

46,212

38,347

35,052

Agustus

20,589

19,731

22,047

11,402

9,256

September

15,169

5,709

43,800

42,812

33,730

Oktober

45,788

52,887

23,596

27,159

25,317

November

22,792

29,316

33,265

32,843

24,093

Desember

35,686

46,557

48,405

46,762

43,911

JUMLAH

339,389

396,491

436,163

408,132

389,894

Sumber : Karimah, et al (2012)

Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa kunjungan wisatawan adalah pada  bulan agustus dengan rata – rata kunjungan sebesar 16,650. Hal ini berkaitan dengan jatuhnya bulan puasa pada bulan agustus. Sedangkan jumlah kunjungan paling tinggi adalah pada bulan desember dengan rata – rata kunjungan sebesar 44,260. Dan secara keseluruhan rata – rata kunjungan wisatawan ke DAT-TMII sebanyak 394.014 orang per  tahun atau 32.835 orang per bulan

Rincian Biaya              

Biaya produksi untuk pengelolaan DAT-TMII dibagi menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya variable. Rincian biaya tetap dapat dilihat dari table berikut:

  • Tabel biaya tetap

No

Biaya tetap per tahun

Harga (Rp)

1

Pajak dan retribusi

5.475.000

2

Biaya penyusutan

19.543.332

Total

25.018.332

Sumber : Karimah, et al (2012)

Sedangkan biaya variable lebih kepada biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan ikan hias dan jumlahnya sangat tergantung pada kapasitas dan masa produksi. Rincian biaya variable tertera pada table berikut ;

  • Tabel biaya variable

No

Biaya tetap per bulan

Harga (Rp)

1

Cacing beku

2.800.000

2

Pakan benih

3.500.000

3

Pakan larva

1.200.000

4

Listrik

1.000.000

5

Gaji pegawai

5.600.000

6

Transportasi

300.000

7

Perawatan alat

250.000

8

Obat – obatan

200.000

Total biaya variable per bulan

14.850.000

Total biaya variable per tahun

178.200.000

Sumber : Karimah, et al (2012)           

Dengan asumsi biaya variable tidak terlalu fluktiatif maka rata – rata pengeluaran DAT-TMII untuk membiayai kegiatan oprasionalnya per tahun adalah sebesar Rp 203.218.332.

                Dengan demikian maka harga tiket yang dapat ditetapkan oleh DAT-TMII agar dapat mendukung kegiatan oprasionalnya adalah ;

P.Q = TFC + VC

  1. 394.014 = Rp 203.218.332

Maka harga tiket yang dapat ditetapkan adalah ; Rp 515,78. Dengan kata lain jika DAT-TMII dengan fluktuasi kunjungan rata-rata adalah 394.014 orang dan biaya variable rata – rata per tahun Rp178.200.000. Maka dengan hanya menetapkan harga tiket Rp 515,78 DAT-TMII sudah dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan dalam mendukung kegiatan wisatawan. Dan jika DAT-TMII menetapkan harga diatas Rp 515,78 maka DAT-TMII mendapakan keuntungan dari kegiatan wisata yang dijualnya.

                Dan dengan harga tiket masuk yang ditetapkan saat ini sebesar Rp 15.000,- per orang maka DAT-TMII sudah mendapatkan keuntungan rata- rata 14.400,- pertiket per orang.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

Berdasarkan penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa secara manajerial pola pengelolaan DAT-TMII tergolong cukup sederhana, terlihat dari rata jumlah pengeluaran untuk biaya oprasionalnya yang per tahun sebesar adalah sebesar Rp 203.218.332 atau rata – rata Rp 16.000.000,-. Sedangkan hasil yang didapatkan cukup   besar, hanya    dari penjualan tiket saja   setiap bulannya   rata – rata adalah Rp 492.525.000,-. Dengan demikian margin yang didapatkan DAT-TMII setiap bulannya cukup besar.

                Dengan margin yang lebih dari 30 kali lipat dari biaya oprasional yang dikeluarkan setiap bulannya diharapkan pengelola DAT-TMII dapat memaksimalkan kemempuan keuangannya untuk meningkatkan tata kelola DAT-TMII, mengingat setiap produk termasuk produk wisata seperti DAT-TMII akan mengalami penurunan trand, sehingga dengan kemampuan keuangannya yang saat ini cukup baik, DAT-TMII diharapkan dapat menciptakan inovasi- inovasi produk baru untuk meningkatkan trand kunjungan wisata

DAFTAR PUSTAKA

Artikel dalam Jurnal Publikasi

Kharimah, et al, Analisis Prospektif  Usaha Budidaya Ikan Air Tawar Di Taman Akuarium Air Tawar (TAAT) Dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Jurnal Perikanan dan Kelautan, ISSN: 2088-3137, Vol.3, No.3, September 2012, hal.145-156

Buku

Pangemanan, P.A. 1993. Aplikasi Model Biaya Perjalanan dan Manfaat Rekreasi di Taman Nasional Bunaken Sulawesi Utara.Tesis. Program Pascasarjana. ITB. Bogor.

Prawirosentono, Suyardi, 2007, Manajemen Oprasi, Bumi Aksara, Jakarta

Usry, Carter, 2004, Akuntasi Biaya, Salemba Empat, Jakarta

Wahab, Salah, 1992, Manajemen Pariwisata, Pradnya Paramita, Jakarta

Warpani, Suwardjoko, Indira Warpani, 2007, Pariwisata Dalam Tata Ruang Wilayah, ITB, Bandung

Website / laman

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2003. Panduan Penulisan Manajemen Ilmiah[Online] (diupdate 16 Jan 2005) Tersedia di: http://www.perpusnas.go.id/we/article  [Diakses pada tanggal 10 April 2011].

www.bogorbotanicalgarden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *