IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS; MEMETAKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI MASYARAKAT KABUPATEN TANGERANG TERHADAP PELESTARIAN BUDAYA CHINA BENTENG

By : Dhian Tyas Untari & Novita Delima Putri

ABSTRACT

Chinese cultural fortress that is one of the heritage of Tangerang, who has a history of being valuable to the development of the sting area of Tangerang and preservation of cultural values of China Stronghold is a responsibility and duty charged not only to Ethnic Chinese community of the Fort, but more broadly. Cultural preservation is the responsibility of the entire stakeholder. The purpose of this research is to break the perception and preference of Tangerang Regency society to Chinese Culture Benteng which is one of the growing culture in Tangerang. Primary data were obtained from the results of the kuestioner of the respondent, namely the community of Chinese descent Tangerang Fort and community Fortress as a Non Chinese Tangerang respectively 30 persons. While the secondary data collection is taken from documents and monographs obtained from related institutions and historical development of Chinese Benteng in Tangerang. Aspects of perception and preference in this study include dimensions of social values, cultural values, value of uniqueness and value of authenticity. Importance Performance Analysis (IPA) will be used in analyzing data to compare expectations and levels of interest in community perceptions in graphic form.

Keywords : China Benteng, Tangerang, Perception preference, IPA

ABSTRAK

Budaya China Benteng yang merupakan salah satu heritage Tangerang, yang memiliki nilai sejarah yang sengat berharga bagi perkembangan Wilayah Tangerang dan pelestarian  nilai Budaya China Benteng merupakan sebuah tangung jawab dan kewajiban yang dibebankan bukan hanya kepada masyarakat Etnis China Benteng, tetapi lebih luas lagi. Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab seluruh stakeholder. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mematahkan persepsi dan preferensi masyarakat Kabupaten Tangerang terhadap Budaya China Benteng yang merupakan salah satu budaya yang berkembang di Tangerang. Data primer diperoleh dari hasil kuestioner dari responden yaitu masyarakat Tangerang keturunan China Benteng dan masyarakat Tangerang Non China Benteng sebagai masing- masing 30 orang. Sedangkan pengumpulan data skunder diambil dari dokumen – dokumen dan monograf yang diperoleh dari instansi terkait Tangerang dan sejarah perkembangan China Benteng di Tangerang. Aspek persepsi dan preferensi dalam penelitian meliputi dimensi nilai sosial, nilai budaya, nilai keunikan dan nilai keaslian. Importance Performance Analysis (IPA) digunakan dalam menganalisis data untuk membandingkan harapan dan tingkat kepentingan dalam persepsi masyarakat dalam bentuk grafik.

Kata kunci : China Benteng, Tangerang, Persepsi Preferensi, IPA

PENDAHULUAN

                Budaya memiliki posisi yang cukup penting dalam kehidupan manusia, budaya mengandung pemahaman yang cukup kompleks meliputi, pengetahuan, kepercayaan, seni, moral,

                hukum, adat-istiadat, kebiasaan dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat. Budaya sebuah masyarakat sangat di pengaruhi dengan sejarah perkembangan komunitas tersebut sehingga budaya masyarakat merefleksikan hubungan manusia dengan manusia lainnya, manusia secara komunal dengan masyarakat lainnya dan manusia dengan lingkungannya (Untari, 2016).

                Pada saat ini, saat moderenisasi mulai merubah pola hidup manusia, saat konsep- konsep modern dan arus globalisasi mulai menggerus kearifan dari budaya lokal, maka eksistensi budaya dengan semua nilai luhur didalamnya akan mulai ditinggalkan. Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa proses globalisasi bukanlah suatu proses yang baru mulai akhir-akhir ini, yang disebabkan oleh lonjakan perkembangan sistem komunikasi, tapi sejak masa lalu setiap masyarakat di muka bumi ini merupakan suatu masyarakat global (Sahlins 1994). Begitu juga, kemajemukan kebudayaan terwujud bukan karena terisolasinya kelompok-kelompok sosial, melainkan justru karena adanya kontak secara terus menerus antara kelompok-kelompok tersebut (Lévi-Strauss dalam Sahlins 1994). Temuan-temuan demikian mengajarkan kita bahwa proses “Globalisasi dan Perubahan Budaya” tidak perlu dihadapi dengan sikap menutup diri yang ekstrim. Sebaliknya, dengan memahami bagaimana kebudayaan itu dikonstruksi melalui wacana dan praksis, misalnya, kita juga dapat memanfaatkan proses globalisasi sebagai sarana untuk memperkaya kemajemukan kebudayaan-kebudayaan kita (Alam, 1998). Dengan demikian perlu mensinergikan antara pembanguan dengan keberlanjutan eksistensi budaya (Duxbury dan M Sharon, 2011).

                Indonesia memiliki ribuan pulau yang persebar dari ujung timur hingga barat, didalamnya juga terdapat bermacam- macam suka dengan budayanya yang sangat outentik. Pluralisme Indonesia merupakan kekayaan sekaligus modal social (social capital) yang teramat berharga yangsemestinya disyukuri dan dilestarikan. Salah satu wilayah yang memiliki budaya yang sangat outentik dan menarik adalah Tangerang. Keberadaan budaya pada masyarakat Tangerang, sedikit banyak, berpengaruh terhadap kehidupan sosial keagamaan masyarakat Banten. Budaya masyarakat Banten sejatinya adalah budaya Sunda, sebagaimana budaya yang berlaku di wilayah-wilayah Provinsi Jawa Barat.

Etnis Tionghoa selanjutnya mendiami suatu wilayah yang kemudian dikenal Kampung Pecinan. Salah satunya adalah komunitas Tionghoa yang terdapat di wilayah Kota Tangerang, yang dikenal dengan sebutan Cina Benteng. Orang Cina Benteng di kawasan kota Tangerang memiliki ciri-ciri fisik berkulit hitam atau gelap dan bermata lebar, dan hidupnya paspasan atau malah miskin. Salah satu kantong kemiskanan wilayah Pecinan di Kota Tangerang adalah wilayah desa Sewan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Namun dalam lingkungan tersebut terdapat kisah keuletan individu-individu yang memilih bekerja disektor informal, yaitu dengan wirausaha

                Perkembangan Wilayah Tangerang tak lepas dari budaya China yang dikenal dengan “China Benteng” yang memiliki ciri-ciri fisik berkulit hitam atau gelap dan bermata lebar (Wulandari dan Benyamin, 2016). Pada tahun 1740 terjadi pembantaian terhadap Etnis China di Batavia, sehingga mereka melarikan diri ke Tangerang, mereka mulai tinggal di daerah Kedaung, Kampung Melayu dan Teluk Naga yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tangerang Hingga saat ini Etnis Chian Benteng sudah mencapai genetasi ke enam hingga ke-tujuh (Arif, 2014 dalam Setiawan, 2015). Warga Etnis China Benteng saat ini banyak mendiami wilayah Pecinan di Tangerang yaitu wilayah desa Sewan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang (Wulandari dan Benyamin, 2016). Pada perkembangannya kini Etnis China Benteng telah berakulturasi dan menikah dengan masyarakat lokal, bahkan banyak diantara mereka yang telah memeluk agama islam dan tidak lagi mengkonsumsi daging babi (Sugianta et al, 2012).

                Keberadaan Kabupaten Tangerang menjadi salah satu daerah penyangga Ibu Kota, sehingga menjadikan Tangerang menjadi salah satu wilayah yang mendapat dampak dari urbanisasi (Winarso, Hudalah, & Firman, 2015). Perkembangan Kabupaten Tangerang yang begitu pesat, menyebabkan Kabupaten Tangerang menjadi salah satu wilayah dengan tingkat interaksi budaya yang cukup tinggi dan masyarakat heterogen yang merupakan konsekuensi dari perubahan sosial yang terjadi pada daerah perkotaan (Sukanto, 1998 dalam Hidayah, 2011). Perubahan sosial menciptakan Tangerang sebagi wilayah multicultural, masyarakat multikultural dimana di dalamnya berkembang banyak kebudayaan dengan berbagai macam  bentuk kehidupan dan orientasi nilai (Arif, 2014). Tingginya tingkat interaksi sosial budaya pada masyarakat menyebabkan terdegradasinya nilai- nilai budaya lokal. Kebudayaan universal muncul, disebarkan melalui semakin banyaknya media global yang kebanyakan dikendalikan oleh, dan bekerja untuk  kepentingan modal transnasional, sehingga bagi masyarakat perkotaan sangat sulit untuk melestarikan kebudayaan lokalnya sendiri yang unik, walaupun ini merupakan komponen penting dari pembangunan masyarakat (Pujiwiyana, 2010).

                Budaya China Benteng bukanlah satu- satunyau budaya yang merepresentasikan budaya masyarakat Tangerang. Masyarakat China Benteng juga bukan satu- satunya etnis yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Tangerang. Tetapi pelestarian budaya China Benteng yang merupakan salah satu heritage Tangerang, yang memiliki nilai sejarah yang sengat berharga bagi perkembangan Wilayah Tangerang merupakan sebuah tangungjawab dan kewajiban yang dibebankan bukan hanya kepada masyarakat Etnis China Benteng, tetapi lebih luas lagi. Pelestarian budaya merupakan tanggungjawab seluruh stakeholder yang didalamnya termasuk pemerintah, budayawan, akademis dan masyarakat umum. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan persepsi masyarakat Kabupaten Tangerang terhadap Budaya China Benteng, serta memetakan preferensi masyarakat Kabupaten Tangerang dalam usaha bersama melestarikan kebudayaan China Benteng yang merupakan salah satu budaya yang berkembang di Tangerang.

METODE

Data primer diperoleh dari hasil kuestioner dari responden yaitu masyarakat Tangerang keturunan China Benteng dan masyarakat Tangerang Non China Benteng sebagai. Sedangkan pengumpulan data skunder diambil dari dokumen – dokumen dan monograf yang diperoleh dari instansi terkait Tangerang dan sejarah perkembangan Chian Benteng di Tangeranf. Setiap kelompok responden sebanyak 30 orang dengan kata lain total sample penelitian adalah 60. Metode eksidential sampling digunakan untuk menentukan responden hal ini dikarenakan tidak adanya data yang tepat tentang jumlah masyarakat Chian Benteng di Tangerang.

Metode deskrtiptif digunakan dalam pengolahan data dengan menggunakan statistik desktiptif. Aspek persepsi dan preferensi dalam penelitian meliputi dimensi nilai sosial, nilai budaya, nilai keunikan dan nilai keaslian. Importance Performance Analysis (IPA) digunakan dalam menganalisis data untuk membandingkan harapan dan tingkat kepentingan dalam persepsi masyarakat dalam bentuk grafik.

Tahapan pertama dalam metode Importance Performance Analysis(IPA) yaitu menentukan tingkat kesesuaian antara atribut-atribut yang diteliti melalui perbandingan skor persepsi dengan skor preferensi. Rumus tingkat kesesuaian yang digunakan adalah (Santoso; 2011 dalam Anggraini et al; 2013) :

Keterangan ;

Tki          = tingkat kesesuaian

Xi            = skor penilaian persepsi

Yi            = skor penilaian preferensi

Selanjutnya dihitung rata- rata seluruh  atribut tingkat persepsi (X) dan preferensi (Y) yang menjadi batas dalam diagram kartesius, dengan rumus :

Keterangan ;

C-Line X  atau  C-Line Y  = Rata-rata skor tingkat persepsi (X) atau preferensi (Y)

    atau          = Rata- rata tingkat persepsi (X) atau preferensi (Y)

k     = Banyaknya atribut

Tahapan terakhir yaitu penjabaran tiap atribut dalam diagram kartesius seperti terlihat pada Gambar 1 berikut,

Fig 2. IPA (Impotant Performance Indicator)

Keterangan:

  1. Menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap mempengaruhi persepsi, termasuk unsur-unsur budaya yang dianggap sangat penting, namun kenyataanya preferensi masyarakat cenderung masing acuh.
  2. Menunjukkan unsur budaya yang telah berhasil meningkatkan persepsi dan preferensi masyarakat terhadap pelestarian budaya Cina Benteng. Untuk itu wajib dipertahankannya. Dianggap sangat penting dan sangat memuaskan.
  3. Menunjukkan beberapa faktor yang kurang mampu meningkatkan persepsi dan preferensi masyarakat terhadap pelestarian budaya China Benteng dan dianggap kurang penting
  4. Menunjukkan pelestarian budaya China Benteng dipersepsikan kurang penting bagi masyarakat, akan tetapi melihat potensi pasar yang ada, masyarakat mau jika diajak bersama- sama meletarian budaya China Benteng.

Dimensi yang digunakan dalam penelitian adalah dimensi persepsi dan preferensi yang akan dibandingkan. Kemudian dimensi persepsi dan preferensi tersebut dipecah menjadi beberapa indikator yang untuk selanjutnya akan menjadi komponen pertanyaan dalam koestioner. Oprasionalisasi dari kedua dimensi tersebut akan dijabarkan pada table 1,

Table 1. Oprasionalisasi dimensi penelitian

No

Indikator

Persepsi

Preferensi

Definisi oprasional

1

Persepsi terhadap perlindungan Budaya China Benteng

Preferensi untuk melindungi nilai- nilai Budaya China Benteng.

 

 

Merupakan komitmen bersama untuk bersama- sama melindungi peninggalan- peninggalan Budaya China Benteng baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

2

Persepsi terhadap pelestarian Budaya Chian Benteng

Preferensi untuk melestarikan nilai- nilai Budaya China Benteng Melestarikan.

 

 

Merupakan sebuah kemauan bersama untuk melestariakan Budaya China Benteng dengan menjaga eksistensi Budaya China Benteng dalam kehidupan sehari- hari.

3

Persepsi terhadap pemanfaatan nilai-  nilai Budaya China Benteng

 

Preferensi untuk memanfaatkan nilai- nilai Budaya China Benteng.

Komitmen bersama untuk memanfaat Budaya China Benteng agar dapat meningkatakan nilai ekonomi dari Budaya yang pasti akan diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Hasil studi menunjukkan bahwa mayoritas resonden dari masyarakat China Benteng adalah perempuan sedangkan masyarakat Non China Benteng mayoritas adalah laki- laki. Dari segi pendidikan, mayoritas responden masyarakat China Benteng berpendidikan SMA dan sedrajat sedangkan responden masyarakat Non China Benteng mayoritas S1. Hal ini memperkuat asumsi bahwa masyarakat China Benteng memang selama ini masih kurang mendapatkan akses pendidikan. Dan dilihat dari mata pencaharian, responden masyarakat China Benteng mayoritas bahan hampir semua bermata pencaharian sebagai wirausaha dan atau petani. Sedangkan responden masyarakat Non China Benteng mayoritas adalah sebagai pegawai swasta, hal ini juga sesuai dengan fungsi Kabupaten Tangerang sebagai daerah penyangga Ibu Kota yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai wilayah urban, sehingga saat ini d Kabupaten Tangerang banyak ditemui masyarakat pendatang yang bermata pencaharian sebagai karyawan swasta. Kemudian dilihar dari penghasilan mayoritas responden masyarakat China Benteng berpenghasilan sejumlah 3 – 5 juta rupiah, berbeda dengan responden masyarakat Non China Benteng yang mayoritas berpenghasilan diatas 5 juta rupiah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat China Benteng saat ini masih dibawah tingkat kesejahteraan masyarakat pendatang. Secara lebih lengkap akan dipaparkan pada table berikut,

Table 2. Profile Responden

Komponen

Masyarakat Chian Benteng

Masyarakat Non China Benteng

Jenis Kelamin

21  Perempuan

9    Laki-laki

12  Perempuan

18  Laki-laki

Pendidikan

15 SMA / Sedrajat

 5  D3/S1

0   S2/S3

9    SMA / Sedrajat

20  D3/S1

1    S2/S3

Pekerjaan

2   Pegawai Swasta

0   Pegawai Negri/ TNI/Polri

26 Wirausaha/Petani

2   Tidak Bekerja

14  Pegawai Swasta

8    Pegawai Negri/ TNI/Polri

6   Wirausaha

2   Tidak Bekerja

Penghasilan

16   <3.000.000

11   3.000.001 – 5.000.000

3    > 5.000.000

2   <3.000.000

10  3.000.001 – 5.000.000

18   >5.000.000

Sumber ; Pengolahan data primer, 2016

Dari hasil pengumpulan kuestioner dari responden, data diolah dengan menggunaan model IPA (Important Performance Analysis) yang telah dimodifikasi. Pemodifikasian dilakukan dengan menggunakan sumbu X sebagai Dimensi Persepsi dan sumbu Y sebagai Dimensi Perferensi. Berikut adalah hasil tabulasi data hasil kostioner tentang persepsi dan preferensi pada masyarakat Chian Benteng;

Table 3. Persepsi dan Preferensi Masyarakat Chian Benteng

 

Persepsi

Preferensi

GAP (Pe-Pr)

Perlindungan (P1)

5

3

2

Pelestarian (P2)

5

3

2

Pemanfaatan (P3)

5

5

0

Sum

15

12

4

C-Line

3,75

2,75

1

Sumber :  Pengolahan Data Primer (2016)

Secara umum masyarakat Chian Benteng memberi score persepsi yang tinggi baik pada aspek perlindungan, pelestarian maupun pemanfaatan budaya, hanya saja pada score preferensi tidak setinggi score persepsi, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat China Benteng pada saat ini kurang memiliki keingingan untuk melindungi dan melestariakan, tetapi jika kiranya dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan, mereka mau ikut serta dalam memanfaatkan Budaya China Benteng. Hal ini dapat dilihat dengan score 5 yang diberikan pada preferensi terhadap pemanfaatan, sedangkan nilai 4 pada preferensi perlindungan dan nilai 3 pada preferensi pelestarian. Kemudian data tersebut dapat diintrepretasikan dalam bentuk bagan, sebagi berikut;

Sumber : Pengolahan data primer, 2016.

   Gambar. 1. IPA Masyarakat China Benteng

                Berdasarkan diagram IPA diatas, ketiga indikator berada pada posisi B. Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa persepsi dan preferensi masyarakat China Benteng terhadap pelestarian budayanya sangat baik dan dianggap sangat penting, untuk itu wajib dipertahankannya.

                Peneliti melibatkan masyarakat Non China Benteng, selain sebagai bahan perbandingan, masyarakat Non China Benteng juga merupakan salah satu stakeholder dalam pengembangan Budaya China Benteng secara lebih lanjut. Berikut adalah hasil tabulasi data hasil kostioner tentang persepsi dan preferensi pada masyarakat Non Chian Benteng

Table 4. Persepsi dan Preferensi Masyarakat Non Chian Benteng

 

Persepsi

Preferensi

GAP (Pe-Pr)

Perlindungan (P1)

3

1

2

Pelestarian (P2)

3

1

2

Pemanfaatan (P3)

4

3

1

Sum

15

12

5

C-Line

3

2,4

0,6

Sumber :  Data diolah (2015)

Hasil studi menunjukkan bahwa secara umum responden masyarakat Non China Benteng memandang positif pada perlindungan, pelestarian dan pemanfaat budaya khususnya Budaya China Benteng, hanya saja mereka tidak mau terlibat langusung dalam kegiatan perlindungan dan pelestaraian Budaya China Benteng, tetapi jika dalam pemanfaatannya dianggap dapat memberi kontribusi postifif baik secara ekonomi maupun sosial maka responden masyarakat Non China Benteng setuju pemanfaatan nilai Budaya China Benteng perlu untuk dioptimalkan. Selanjutnya data tersebut dapat diintrepretasikan dalam bentuk bagan, sebagi berikut,

Sumber : Pengolahan data primer, 2016.

Gambar 2. IPA Masyarakat Non China Benteng

SIMPULAN

Hasil studi menunjukkan bahwa secara umum responden masyarakat Non China Benteng memandang positif pada perlindungan, pelestarian dan pemanfaat budaya khususnya Budaya China Benteng, hanya saja mereka tidak mau terlibat langusung dalam kegiatan perlindungan dan pelestaraian Budaya China Benteng, tetapi jika dalam pemanfaatannya dianggap dapat memberi kontribusi postifif baik secara ekonomi maupun sosial maka responden masyarakat Non China Benteng setuju pemanfaatan nilai Budaya China Benteng perlu untuk dioptimalkan

DAFTAR PUSTAKA

Alam, Bachtiar. (1998). Globalisasi dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan. Jurnal Antropologi Indonesia. Vol 5.No1. P.1-11

Arif, Muhammad. (2014). Model Kerukunan Sosial pasa Masyarakat Multikultural. Sosio Didaktika. Vol. 1, No.1. P. 52-63.

Duxbury, Nancy and  M. Sharon Jeannotte. (2011). Introduction: Culture and Sustainable Communities. Journal Culture and Local Governance / Culture et gouvernance locale. vol. 3, no. 1-2. P.1-10.

Hidayah, Nurul. (2011). Kesiapan Psikologis Masyarakat Pedesaan Perkotaan Menghadapi Diversifikasi Pangan Pokok. Humanitas, Vol. VIII No.1. P.88-104.

Pujiwiyana. (2010). Perubahan Prilaku Masyarakat Ditinjau Dari Sudut Budaya. Jurnal Seni Dan Budaya. Vol.1 No.1, P. 23-34.

Sahlins, Marshall. (1994). Goodbye to Tristes Tropique: Ethnography in the Context of Modern World History’, dalam R. Borofsky, (ed.) Assessing Cultural  Anthropology. New York: McGraw-Hill, Inc. P. 377-395.

Sugianta, A., Lisa, M., & Linda. (2012). Analisa  Perubahan Sosial Masyarakat Sawan Lebak Wangi (Perbandingan Era Reformasi dan Orde Baru). Bina Nusantara. Retrieved from http://eprints.binus.ac.id/23298/1/2011-2-00735.

Setiawan, Billy Nathan. (2015). CINA BENTENG:THE LATEST GENERATIONS AND ACCULTURATION. Jurnal Lingua Culture. Vol.9.No.2. P.35-39

Untari, D. T.(2016). The Potential Development of Betawi Culinary as an Ecotourism Product in Jakarta. Binus Business Review, 7(3), 277-282. http://dx.doi.org/10.21512/bbr.v7i3.1532.

Wulandari, Christina. Bunyamin Maftuh. (2016). Transformasi Nilai- Nilai Budaya Masyarakat Etnis Tionghoa Sebagai Sumber Pembelajaran IPS (Studi Kasus di Desa Sewan Kota Tangerang). Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol. 25(1),1-9.

Winarso, H., Hudalah, D., & Firman, T. (2015). Peri-urban transformation in the Jakarta metropolitan area. Habitat International, 49, P.221-229. Retrieved from :http://dx.doi.org/10.1016/j.habitatint.2015.05.024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *