Pendidikan Tradisional Dalam Bentuk Pendidikan Pesantren ; Sebagai Jawaban atas Keterasingan Masyarakat Modern

By: Novita Delima Putri

Pendahuluan

Saat ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi mulai berkembang dengan pesat  dan kemudian dianggap sangat mengasingkan, belakangan ini pula banyak orang-orang, para pengamat dan bahkan para pimpinan yang berusaha untuk kembali mengenang dan menupayakan lagi pendidikan tradisional. Ini merupakan suatu gejala yang sudah meluas terjadi di negara-negara yang sedikit banyaknya dipengaruhi adat dan tradisi bagi keberlangsungan masyarakatnya. Pada era globalisasi ini kata tradisionalisme dapat disebut sebagai bagian dari reaksi dari perkembangan social yang sangat cepat dan tidak mampu di hadapai sehingga perasaan akan pentingnya nilai-nilai tradisi pun kemudian bangkit kembali. Nilai ketradisian ini kemudian di jadikan tameng dan kemudian di bangkitkan kembali. Dibangkitkan untuk mencari keberartian makna agar kekalahan yang dialami didalam bersaing dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara – negara lain mendapatkan hiburan. Kita yang masih berkutat dengan romantisme pada hal-hal yang local dan kolot (kearifan lokal atau local wisdom) terlena dan bahkan tak sanggup menyaingi model dan teknologi asing yang lebih canggih dan telah dibangun didasarkan perkembangan IPTEK yang pesat.

Rakyat masih di doktrinkan untuk bertahan pada hal-hal yang bersifat lolal juga dibumbui dengan tipikalisasi  (unik dan khas) yang biasa kita gunakan untuk bersaing dan berkompetisi dengan ekonomi global yang  kian “menggila”. Saat ini bisa dikatakan industrilisasi nasional kita kian terpuruk dan bangsa kita asyik bergantung kepada bangsa asing. Beriringan dengan hal demikian itu tanpa di sadari kecenderungan akan akti teknologi telah menggerogoti pola pikir dan cara berfikir sebagian masyarakat Indonesia. Cara pandang anti teknologi ini muncul beriringan dengan romansa nasionalisme yang banyak di “bualkan” oleh kaum elite, politik, ekonom dan sampai kebanyakan para ilmuwan. Anti teknologi telah menjebak pemikiran bangsa kita  dan tanpa disadari “asing” makin mengekploitasi lingkungan secara membabi buta dan dengan lahapnya mengambil minyak bumi, tambang emas, tembaga, bahkan yang di takutkan uranium yang kemudian akan di gunakan mereka untuk kemajuan teknologi bangsanya. Kita kalah benar – benar kalah dalam persaingan, kita dijarah habis-habisan sementara kita hanya berkutat di pola pikir yang kolot. Oleh karena itu kita harus merubah pola pikir anti teknologi tanamkan kepada generasi bangsa kita agar kita bisa bersaing di era modernisasi yang menglobal ini, tentunya pula tanpa mengeliminasi bahkan menghilangkan nilai moral, nasionalisme dan agama.

Prinsip Pendidikan Tradisional

Pengertian yang sama dengan pendidikan konvensional bahwa pendidikan tradisional juga berbentuuk kelembagaan yang terdapat guru, murid, system administrasi, alat bantu atau media pembelajaran yang baku (dan atau tradisional) dan kurang canggih didalamnya. Menurut Vernon Smith ciri-ciri umum sekolah tradisional adalah: (a) anak-anak biasanya dikirim kesekolah dalam wilaya geografis distrik tertentu, (b) mereka kemudian dimasukkan kekelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur, (c) anak-anak masuk sekolah ditiap tingkat menurut beberapa usia mereka pada waktu itu, (d) mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran, (e) prinsip sekolahnya otoritarian, (f) guru memikul tanggung jawab pengajaran, (g) promosi tergantung pada penilaian guru, (h) kurikulum berpusat pada subyek akademik, (i) bahan ajar paling umum tertera dalam kurikulum.

Prinsip belajar yang diterapkan adalah bagaimana cara belajar diterima dan dimengerti lalu kemudian ditanamkan dalam system persekolahan, diturukan disekolah-sekolah dan diemban oleh guru secara perorangan/individu guru sendiri ini yang disebut dengan Teori Eklektik (Robert M.Gagne).

Pendidikan Pesantren di Indonesia

Pendidikan pesantren adalah salah satu bentuk pendidikan trasisional yang ada di Indonesia. Walaupun seiring terjadinya pembaruan dan modernisasi pendidikan di setiap lembaga pendidikan pesantren, nilai – nilai sisa tradisionalnya masih nyata terlihat. Antara lain pola hubungan antara murid dan guru atau lebih tepatnya santri dan ustad atau kepada kiai. Metode pengajaran dan peralatannya juga semakin canggih tetapi ada yang lama tetap tertinggal. Beberapa watu belakangan ini kita banyak sekali melihat muatan ideology yang juga mengalami perkembangan yang sangat variatif dimulai dari berbagai macam revivalisme islam yang kemudian membawa efek pada tindakan dan gerakan politis seperti “terorisme”, yang secara nyata banyak berkembang di beberapa pesantren. Ini merupaka bentuk kewajaran sebagai hokum dialektika antara pendidikan tradisional jika berhadapan dengan perkembangan modern yang kemudian di anggap merusak moral, kepercayaan dan kemanusian dari sudut pemahaman agama.

Beberapa pesantren banyak yang mengembangkan pola pendidikan yang canggih, sarana dan prasaana peralatan yang lengkap, di komandani para pengajar yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang sesuai dan bahkan memiliki nilai akademis yang bagus dan cerdas. Rerata pesantren modern yang ada banyak mengadopsi pendidikan modern yaitu “full-day school”. Hal ini untuk dapat memaksimalkan peran kecerdasan dan pembentukan mental bagi peserta didik. Sebagian besat dari pesantren menjadikan lembaga pendidikannya dengan lembaga pendidikan komersial agar akan banyak orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya dengan membayar biaya pendidikan yang sangat tinggi. Ada sebuah quote dari Vernon Smith “Orangtua ideal bagi pendidika tradisional adalah yang menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari sekolah, tapi nmengirim uang kesana sesering-seringnnya”.

Sistem pendidikan yang seperti ini merupakan bentuk dari model pesantren kuno yang mana peserta didik harus secara penuh berada di lembaga pendidikan. Anak-anak ini diatih untuk jauh berada dari orang tua. Kemudian bagi orangtua yang merasa tidak mampu atau enggan mendidik anaknya dirumah , dan juga tidak mau repot mengontrol anaknya baik “moral” dan “mental” anak yang sekolah disekolah biasa (umum) atau yang takut atas dampak system pendidikan non agama yang tidak banyak memberi pelajaran moral dan agama bagi peserta didik, orangtua seperti ini akan lebih suka mengeluarkan banyak uang lebih daripada melakukan fungsi dan  kodratnya sebagai pengarah atau pengontrol anaknya di rumah, padahal madrasah paling utama adalah di rumah yaitu didikan dari kedua orang tua.

  • Sejarah Pesantren

Pesantren bertujuan menjadikan basis penyebaran ajaran-ajaran keagaman sebagai benteng moral dan mental dalam menghadpi kemajuan IPTEK dan globalisasi. Keseimbangan antara ilmu keagamaan dan ilmu non keagamaan dimaksudkan bisa membentuk lulusan yang siap dalam menerapkan niali-nilai dan norma-norma islam dalam menghadapi perubahan yang akan terjadi dalam masyarakat.

Pesantren berawal dari pendidikan tradisional dalam bentuk pengajian-pengajian yang diselenggarakan dilingkungan rumah kemudian di mushola, masjid dan pada perkembanganya dilengkapi atau kemudian merubah diri menjadi skeolah baik dalam bentuk bangunan fisik maupun manajemennya. Materi yang diajarkan juga mengalami perkembangan yang awal hanya mengajarkan ajaran islam dan mengaji Al-Quran berubah menjadi ibadah praktis, pengkajian, kemudian merujuk kepada pengajaran agama di madrasah yang sudah berisi kurikulum yang terpilah-pilah menjadi seperti tauhid/akidah, akhlak, fikih, hadis, tafsi, sejarah islam dan kemudian bahasa arab.

Dari jaman penjajahan dahulu telah diperkenalkan model pendidikan modern baik dari segi manejemn, teknologi pengajaran dan materi yang akan diajarka. Ajaran non-islam yang awal terdiri dari pelajaran CALISTUNG, ilmu bumi, ilmu hayat, sejarah dan lain-lain. Rakyat diberi kesempatan pada masa itu untuk dapat bersekolah di sekolah-sekolah Belanda (HIS/ELS,MULO,AMS). Kemudia khusus untuk anak-anak kasta rendah disediakan sekolah HIS (yaitu sekolah kelas satu dan sekolah kelas dua atau ongko loro). Hal itulah yang kemudian memingkirkan kelompok islam dan lembaga pendidikan tersebut menyebabkan orientasi modernya disandarkan pada geralan modernism dari Timur Tengah. Kemudian dari inilah muncul gerakan “islam garis keras” dinegara Indonesia. pada perkembangannya pendirian lembaga-lembaga Islam itu juga akhirnya meninspirasi berdirinya organisasi NU (nadhatul ulama), Persatuan Islam (Persis), Persatuan Umat Islam (PUI), Al Washliyah, dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dengan muatan ideology pendidikan yang tentu saja berbeda beda pandangannya.

  • Demokrasi Pendidikan di Pesantren

Terlepas dari berbagai macam aliran yang ada maka kuatnya ikatan emosional keagamaan harusnya senantiasa menjadikan pesantren atau madrasah sebagai “gerakan” dalam mendirikan pondok pesantren pula oleh para alumni pesantren. Keterikatan emosional ini didasari dari sikap saling memiliki (sense of belonging) dan tanggung jawab bersama (sense of responbility). Maka minat masyarakat akan pesantren akan kian meninggkat sebagai pemilihan cara pembelajaran yang efektif bagi pengembangan moral dan mental spiritual, sehingga keberlanjutan akan  pesantren akan terjamin.

Dalam pengelolaan dan manajemen pesantren masih banyak pesantren yang belum demokratisasi dalam menjalankannya ini dapat terlihat dari : (1) pendidikan masaih saja dianggap sebagai belas kasihan dari kiai dan bukan dianggap hak-hak manusia yang mendasar, (2) para pengajar dan staff juga tidak independen dari kepentingan (ekonomi politik) kiai, contoh kasus banyaknya bantuan dari masyarakat luar untuk pembangunan pesantren yang malah masuk kantong pribadi kiai itu sendiri, (3) pendidikan yang dihasilkan dari pesantren banyak yang melahirkan pemikiran yang tidak konservatif, pola pikir yang progresif, dan tidak siap menrima perubahan dan malah menjadi kemunduran untuk perubahan, sehingga pesantren masih tidak bisa mendorong perubahan ideologis yang membodohi rakyat dari patriarkis, feodal-hierarkis, dan patron-klien .

  1. Simpulan
  2. Pendidikan tradisional dalam bentuk pendidikan pesantren yang sejatinya bersifat feodal dan kuno bisa diselaraskan dan ditingkatkan ke modernitas agar bisa bersaing didalam perkembangan kemajuan IPTEK melaui penerapan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan jaman tanpa mengindahkan norma dan niai kepatuhan dalam beragama.
  3. Pendidikan pesantren yang mempunyai pengajar, staff, manajemen serta memiliki sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar serta merangsang peserta didik untuk berpola pikir yang konservatif terhadap lingkungan dan perkembangan IPTEK.
  4. Pendidikan di pesantren diharapkan mampu mengembangkan dan membangkitkan ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik yang selaras dengan nilai –nilai ketakwaan yang bisa membuka alam rasa, fikiran, dan alam roh dalam penerapannya di masyarakat.
  5. Pendidikan pesantren jangan dijadikan tempat untuk memobilasisi politik yang terkadang tidak rasional dan hanya untuk mementingkan kiai dan elite politik semata .
  6. Manajemen Pesantren harus menyalurkan dana bantuan yang dikucurkan kepada pesantren tersebut untuk digunakannya sepenuhnya untuk peningkatan mutu pendidikan pesantren itu sendiri.
  7. Pendidikan di pesantren hendaknya dan sejatinya bisa menjadi daya pendorong perubahan untuk menghilangkan hambatan-hambatan ideologis yang membodohi rakyat seperti hubungan patriarkis, feodal dan patron-klien yang menjadi produk pandangan yag anti demokrai dan HAM.

Daftar Pustaka

Aqil, Said, Husain Munawar. 2005. Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani. Ciputat: Ciputat Press.

Arifin, Zainal. 2012. Pengembangan Managemen Mutu Kurikulum Pendidikan Islam,Yogyakarta: DIVA Press, cet.1.

Azra, Azyumardi. 2012. Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

Departer, Bobbi., Mark Reardon & Sarah Singger Naurie, 2003. Quantum Teaching (Mempraktekan Quantum teaching di ruang kelas-kelas),Bandung: Kaifa.

Fadjar. Malik, 1998. Madrasah dan Tantangan Modernitas, Bandung: Mizan.

Gagne. Robert M, 1989. Kondisi Belajar dan Teori Pembelajaran. (terjemah Munandir). PAU Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.

Hasan, Noer, 2006. Fullday School (Model alternatif pembelajaran bahasa Asing), Jurnal Pendidikan Tadris. Vol 11.

Miarso, Yudihadi, dkk, 1986. Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: CV. Rajawali.

Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam,Bandung: Nuansa.

Muhaimin, dkk, 2001. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,Jakarta: Remaja Rosdakarya, cet.1.

Nata, Abuddin, 2005. Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press.

Smith, Vernon, 2001. Pendidikan Tradisional” dalam Omi Intan Naomi, Mengugat Pendidikan:Fundamentais,Konservatif,Liberal,Anarkis Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *