Perencanaan Standarisasi Kapasitas Guide Terhadap Keberhasilan Ekowisata

By : Novita Delima Putri

Abstrak

Pramuwisata  (Guide ) adalah orang yang pertama kali dijumpai oleh wisatawan dalam rangka mewujudkan harapan dan impian atas tour yang telah dibayarnya. Wisatawan bagaikan seorang bocah kecil di tengah hiruk pikuknya pasar. Ia tidak tahu harus melangkah kemana, ia membutuhkan bimbingan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Adalah tugas Pramuwisata untuk menemani, mengarahkan, membimbing, menyarankan wisatawan di tengah-tengah ketidaktahuannya itu. Wajarlah jika wisatawan mempercayakan aktivitasnya kepada Pramuwisata, karena ia yang lebih tahu dan berpengalaman. Maka jadilah Pramuwisata itu sebagai teman perjalan bagi wisatawan. Sebagai teman yang baik maka akan sangat ironi jika seorang pramuwisata memanfaatkan ketidaktahuan wisatawan untuk mengail keuntungan untuk diri sendiri, misalnya dengan menaikan harga barang yang dibeli wisatawan, memaksa untuk memberikan imbalan lebih, dan sebagainya. Untuk itu diperlukan standarisasi kapasitas pramuwisata (guide) di dalam keberhasilan suatu perjalanan wisata ekowisata. Melalui perancanaan standarisasi kapasitas pramuwisata (Guide) diharapkan bisa membangkitkan kenyamanan para wisatawan baik domestic maupun mancanegara dalam melakukan kegiatan wisatanya dan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan sehingga ada keinginan untuk melakukan ulang kembali perjalanan wisatanya ke obyek wisata ekowisata yang lainnya.Apalagi Indonesia mempunyai potensi alam yang luar bisa, Pramuwisata juga diharapkan mampu menerangkan konsep ekowisata secara lebih umum dan detail dari destinasi ekowisata yang dikunjungi oleh para wisatawan.

Keyword : Perencanaan, Standarisasi Guide, Ekowisata

A. Tinjauan Pustaka

A.1. Definisi Perencanaan

Menurut Erly Suandy (2001:2) “Secara umum perencanaan merupakan proses penentuan tujuan organisasi (perusahaan) dan kemudian menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas strategi-strategi (program), taktik-taktik (tata cara pelaksanaan program) dan operasi (tindakan) yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan secara menyeluruh.”

A.2. Ekowisata

Ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah-wilayah yang lingkungan alamnya masih asli, dengan menghargai warisan budaya dan alamnya, mendukung upaya-upaya konservasi, tidak menghasilkan dampak negatif, dan memberikan keuntungan sosial ekonomi serta menghargai partisipasi penduduk lokal. (World Conservation Union).

            Gambar 1. Ruang lingkup Ekowisata

A.3. Perencanaan dalam Ekowisata

Perencanaan ekowisata adalah alat untuk membimbing pengembangan pariwisata pada daerah yang dilindungi dengan melakukan sintesis dan menggunakan visi dari semua pemangku kepentingan untuk tujuan konservasi pada lokasi tersebut.

Dalam perencanaan kegiatan ekowisata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Daerah yang dilindungi harus direncanakan sebagai bagian integral dari pengembangan wilayah.
  2. Tujuan pengelolaan harus disusun untuk setiap tingkatan Perencanaan yang baik harus disusun oleh tim yang terdiri dari berbagai disiplin, institusi dan berbagai cara pandang.
  3. Diharapkan dengan interaksi dari berbagai disiplin, institusi dan cara pandang didapatkan situasi yang sinergi untuk menghasilkan suatu perencanaan yang baik.
  4. Perencanaan yang baik tergantung dari efektivitas partisipasi semua pemangku kepentingan.: (diperlihatkan dalam gambar dibawah)

Gambar 2  Interaksi pemangku kepentingan dalam proses perencanaan ekowisata

Dengan merujuk gambar interaksi pemangku kepentingan dalam proses perencanaan ekowisata salah satu indicator keberhasilan dalam perencanaan ekowisata adalah tour operators (Guide). Seorang tour Operatos (guide) adalah salah satu factor penentu dalam kegiatan ekowisata, karena seorang guide haruslah memahami obyek wisata yang akan dia pasarkan kepada para wisatawan baik secara global maupun spesifik, tentang daerah obyek wisata yang akan di pandunya. Selain itu juga seorang gguide harus mempunyai attitude dan behavior yang baik dan santun ketika berinteraksi dengan para wisatawan. Untuk itu diperlukan standarisasi yang harus di patuhi oleh guide sebagai pemandu wisata ekowisata tersebut.

A.4. Standarisasi Kapasitas Guide

Pemandu Wisata atau tour guide merupakan garda terdepan dalam melayani wisatawan untuk berkunjung ke destinasi atau daya tarik wisata. Sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah kegiatan perjalanan, pramuwisata memiliki peran yang strategis untuk memperkuat citra destinasi melalui profesionalisme yang dibawanya. Pramuwisata yang profesional adalah pramuwisata yang kompeten dan memahami serta mengerti seluk beluk kepemanduan. Dalam skala yang lebih luas pramuwisata adalah duta bangsa atau setidaknya duta daerah tempat ia melakukan tugasnya. Apa yang diekspresikan oleh guide dianggap oleh wisatawan sebagai cerminan karakter masyarakat setempat, demikian pula apa yang disampaikan oleh guide akan dipercaya oleh wisatawan sebagai pengetahuan yang akan selalu diingat hingga kembali ke tempat asal. Mengingat hal tersebut, maka seorang pramuwisata (guide) hendaknya memiliki standarisasi kemampuan yang dapat memberikan informasi dengan benar dan baik menyangkut negara, kota, maupun suatu desa, objek wisata, budaya, dan lain sebagainya. Kapasitas seorang guide harus bisa dibuat aturanya atau standar kapasitasnya.

Di Indonesia saat ini sudah di tetapkan SKKNI (STANDAR KOMPTENSI KERJA NASIONAL INDONESIA ) Di bidang Kepemanduan Wisata (Pramuwisata/Guide) dengan ketetapan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : Kep.57/MEN/III/2009. Kemudian Himpunan Parmuwisata Indonesia juga menetapkan standarisasi kode etik yang harus di terapkan oleh pramuwisata (guide) antara lain :

  1. Pramuwisata harus mampu menciptakan kesan penilaian yang baik atas daerah, Negara bangsa dan kebudayaan
  2. Pramuwisata dalam menjalankan tugasnya harus mampu menguasai diri, senang , rapi, bersih serta berpenampilan yang menarik
  3. Pramuwisata harus mampu menciptakan suasana gembira dan sopan menurut kepribadian Indonesia
  4. Pramuwisata harus mampu memberikan pelayanan dan perlakuan yang sama kepada wisatawan dengan tidak meminta tip, tidak menjajakan barang dan tidak meminta komisi
  5. Pramuwisata mampu memahami latar belakang asal-usul wisatawan serta mengupayakan untuk meyakinkan wisatawan agar mematuhi hukum, peraturan, adat kebiasaan yang berlaku dan ikut turut melestarikan objek.
  6. Pramuwisata mampu menghindari timbulnya pembicaraan serta pendapat yang mengundang perdebatan mengenai kepercayaan, adat istiadat, agama, ras dan system politik social Negara asal wisatawan
  7. Pramuwisata berusaha memberikan keterangan yang baik dan benar. Apabila ada hal-hal yang belum dapat dijelaskan maka pramuwisata harus berusaha mencari keterangan mengenai hal tersebut dan selanjutnya menyampaikannya kepada wisatawan dalam kesempatan berikutnya.
  8. Pramuwisata tidak dibenarkan mencemarkan nama baik perusahaan , teman seprofesi dan unsur-unsur pariwisata lainnya
  9. Pramuwisata tidak dibenarkan untuk menceritakan masalah pribadinya yang bertujuan untuk menimbulkan rasa belas kasihan dari wisatawan
  10. Pramuwisata saat perpisahan mampu memberikan kesan yang baik agar wisatawan ingin berkunjung kembali.

Jika pramuwisata sesuai dengan standarisasi yang telah ditetapkan dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan maka wisatawan pun akan mempunyai pengalaman yang tak terlupkan akan obyek wisata ekowisata yang telah dialaminya, karena pelayanan yang baik adalah promosi yang efektif, karena pengunjung yang puas hampir pasti akan menceritakan kepada teman-temannya. Pelayanan yang baik membuat pengunjung kembali lagi. Kita tidak menginginkan pertemuan dengan tamu hanya terjadi satu kali

A.5 Implementasi Perencanaan Standarisasi Kapasitas Guide dalam keberhasilan Ekowisata

Gambar. 3. Diagram Implementasi perencanaan standarisasi guide dalam keberhasilan Ekowisata

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

Dapat dilihat dari diagram implementasi perencanaan standarisasi guide dalam keberhasilan ekowisata di atas, bahwa perencanaan ekowisata salah satu factor penentu keberhasilannya adalah tour operators (Guide), kenyataan yang ada pemerintah telah membuat standarisasi guide yang harus di perhatikan oleh pelaku usaha baik itu instansi maupun pribadi. Standarisasi yang telah ditetapkan pemerintah melalui SKKNI

(STANDAR KOMPTENSI KERJA NASIONAL INDONESIA ) Nomor : Kep.57/MEN/III/2009, dan Himpunan Parmuwisata Indonesia juga menetapkan standarisasi kode etik guide sudah di buat perencanaan yang baik dalam pengelolla guide. Hanya saja pada kenyataannya penerapan yang di lakukan terkadang tidak sesuai dengan standarisasi yang telah ditetapkan, for example untuk guide yang bekerja pada institusi pariwisata tidak dapat dimanage dan diorganisir ,tidak membekalinya dengan pelatihan – pelatihan secara berkala. Kemudian guide juga terkadang hanya bekerja hanya karena job description yang mereka terima saja , peranan guide terkadang hanya sebagai symbol dan pemberi arahan saja, tidak ada interaksi yang terjalin antara guide dan wisatawan.

SARAN

Gaya bahasa yang digunakan oleh guide harus luwes , menarik atraktif dan akrab, Alur interaksi hatus sistematis antara pendahuluan isi dan penutup, Bahasa tubuh ekspresi wajah dan  postur harus rileks dan bisa menunjukkan rasa kepercayaan diri, guide juga harus sering melibatkan wisatawan ,guide harus mengangkat tema untuk menyampaikan sebuah pesan dalam kunjugan wisata tersebut missal wisata ke hutan nangrove seharusnya guide menyampaikan pesan kegunaan dari hutan nangrove, Suasana harus diciptakan dari awal pertemuan dengan wisatawan agar terbangun keterikatan, guide harus melemparkan pertanyaan kepada wisatawan yang seharusnya bisa merangsang ketertarikan wisatawan terhadap onyek wisata yang dikunjunginya, seyogyanya perjalan dihiasi dengan humor atau joke-joke yang membuat perjalanan menjadi menyenangkan. Dengan keharmonisan dan komunikasi yang terjaslin dengan baik serta standarisasi yang telah ditetapkan di terapkan sesuai dengan aturan yang ada dapat dipastikan bahawa perencaan dengan standarisasi kapasitas guide yang baik dan mumpuni bisa meningkatkan keberhasilan pengelolaan ekowisata.

 

DAFTAR PUSTAKA

Gunn, Clare A. 1988. Tourism Planning. Taylor & Franciss. New York- PhiladelphiaLondon.

Damanik,J dan Weber,H.F. (2006) Perencanaan Ekowisata: Dari Teori ke Aplikasi. Penerbit Andi. Yogyakarta

Lindberg,K dan Hawkins,D.E. (1995). Ekowisata: Petunjuk untuk perencanaan dan pengelolaan. Yayasan Alami Mitra Indonesia. Jakarta.

Surakusumah, Wahyu, SE (2008). Perencanaan Pengelolaan Ekowisata Di Indonesia, Prosiding : Universitas Persada Indonesia. Bandung

Ian Yeoman, 2008. Tomorrow’s Tourist : Scenarios & Trends. UK: ELSEVIER

Materi dan Bahan Ajar Power Point Mata Kuliah Prof. IR, Hadi.S.Alikodra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *