EDUCATION : BAGI PENGEMBANGAN EKOWISATA BERBASIS HUTAN

By : Novita Delima Putri

Latar Belakang

Indonesia dikaruniai dengan salah satu hutan tropis yang paling luas dan paling kaya keanekaragaman hayatinya di dunia. Puluhan Juta masyarakat Indonesia mengandalkan hidup hidup dan mata pencahariannya dari hutan, baik dari mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka atau bekerja pada sector pengolahan kayu. Hutan tropis merupakan habitat flora dan fauna yang kelimpahannya tak tertandingi oleh Negara lain dnegan ukuran luas yang sama. Takjubnya dunia akan hutan tropis di Indonesaia membuat banyak kegiatan penelitian ilmiah dilakukan untuk memperoleh dan menemukan species baru. Namun seiring dengan waktu berjalan hutan tropis kita memang masih menjadi perhatian dunia internasional tetapi bukan perhatian bangga melainkan perhatian miris, disebabkan banyaknya kerusakan sumber daya alam hutan yang terjadi di Indonesia. Sebagai contoh pembalakan illegal yang dilakukan secara terang-terangan bahkan dalam volume yang sangat besar selama bertahun-tahun menyebabkan kerusakan hutan  Sejatinya hutan tropis yang indah akan flora dan faunanya bisa menumbuhkan minat wisatawan untuk berkunjung untuk bisa merasakan keindahan hutan tropis di Indonesia.

Saat ini hutan di Indonesia ada 4 macam peruntukkan yang pertama adalah sebagai hutan Industri, hutan konservasi, hutan lindung dan hutan suaka alam. Hutan suaka alam  bisa di jadikan hutan wisata karena dikelola untuk melindungi kekayaan keanekaragaman hayati atau keindahan alam.

Ekowisata menurut : Honey (1999) “mengemukakan ekowisata adalah perjalanan ke tempat-tempat yang rawan rusak, asli dan biasanya dilindungi sehingga diupayakan agar berdampak rendah dan biasanya dalam skala kecil. Ekowisata membantu mendidik pengunjung, menyediakan dana untuk pemeliharaan, secara langsung memberi keuntungan bagi pembangunan ekonomi dan pemberdayaan politik masyarakat lokal, dan mempercepat penghormatan bagi budaya yang berbeda bagi hak asasi manusia”. Dari definisi diatas disimpullkan bahwa kegiatan ekowisata bisa diharapkan menjadi langkah awal untuk pelestarian hutan tropis di Indonesia. Ekowisata mengusung 3 pilar aspek yaitu : 1. Perlindungan Ekologi, 2. Sumber Ekonomi , 3. Kelestarian Sosial dan Budaya.

Aspek pendidikan dalam Ekowisata

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuanketerampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.

Ceballos-Lascurain, penemu istilah ekowisata, pernah berkata : “Poin utamanya adalah bahwa orang yang melakukan ekowisata mempunyai peluang untuk menceburkan dirinya di alam dengan cara yang kebanyakan orang tidak bisa menikmatinya dalam rutinitas mereka, dalam kehidupan perkotaan. Orang ini akhirnya akan memperoleh kesadaran dan pengetahuan tentang lingkungan alam (natural environment), bersama dengan aspek-aspek budayanya, yang akan mengubah [mereka] menjadi seseorang yang begitu terlibat dalam isu-isu konservasi”. Lebih lanjut ia berkata : “…seseorang seringkali melupakan cara dimana ekowisata mendukung konservasi adalah para ekowisatawan itu sendiri, setelah kembali ke tempat asal, ia bertindak sebagai pendukung daerah yang telah dikunjunginya itu” (Sander, 2010). Apa yang dikemukakan oleh Ceballos-Lascurain di atas menggambarkan pada kita bagaimana pendidikan yang termuat dalam ekowisata. Dengan adanya interaksi antara pengunjung dan objek, kegiatan ekowisata telah berhasil menyampaikan pesan-pesan pendidikan sehingga mereka mengalami perubahan sikap dan pandangannya terhadap lingkungan ke arah positif. Aspek inilah yang banyak dilupakan dalam banyak praktek ekowisata.

Alam merupakan sumber ilmu yang tanpa batas. Keanekaragaman lingkungan (alam, sosial, budaya) dapat menampung pengembangan minat (sense of interst) para wisatawan. Segala sesuatu yang ada di alam dapat langsung diamati (sense of reality), diselidiki (sense of inquiry), dan ditemukan (sense of discovery). Oleh karena itu, pendidikan sifatnya inheren (melekat) dalam ekowisata. Ekowisata harus mencakup komponen pendidikan dan interpretasi aspek alam dan budaya suatu tempat. Pengunjung harus belajar tentang sesuatu, membangun penghargaan terhadap budaya dari tempat yang ia kunjungi, dan juga membangun sebuah pemahaman tentang sifat dan proses-proses alami tempat tersebut, sebagaimana dikemukakan Lipscombe dan Thwaites (2001).

Aspek Supply dan Demand

Dilihat dari sisi permintaan , trend kunjungan wisatawan ke DTW di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya , tetapi kunjungan wisatawan tersebut hanya ke DTW yang kebanyakan tidak berkunjung ke DTW alami . Kunjungan wisatawan dilihat dari trend banyak melakukan kunjungan ke Bali, DIY, Raja Ampat, Bunaken. Negara asal wisatawan pun kebanyakan dari Negara-negara yang memiliki Gross National Income yang tinggi. Sehingga bila dilihat dari sisi demand ini semestinya kunjungan wisatawan bisa mendatangkan devisa yang tinggi untuk Indonesia.

Dari sisi Supply Indonesia memiliki banyak hutan tropis di seluruh Indonesia, dari data yang ada ada Luas hutan hujan tropis Indonesia diperkirakan seluas 1.148.400-an kilometer persegi yang mempunyai kekayaan hayati yang begitu besar mulai dari tambang, flora dan faunanya. Selain itu hutan suaka alam di

Indonesia banyak teradapat di seluruh provinsi di Indonesia. Melihat dari sisi Supply Indonesia selain memiliki hutan industry, lindung, konservasi , kedepannya nanti hutan suaka alam bisa menjadi hutan ekowisata.

State of the art

Dari beberapa penelitan yang sudah dilakukan sebelumnya oleh para peneliti lain antara lain :

NO

Judul

Peneliti

Hasil

1

Kajian Ruang Sirkulasi pada Taman Hutan Raya

Fraseno, ST, MT

Universitas Katolik Parahiyangan

Perubahan Zoning

Perubahan Sirkulasi

Perbaikan Strata Sirkulasi

2

Menggali Potensi kesejarahan TAHURA IR. H. Juanda dalam Pengembangan Arsitektur Kawasan Pariwisata Yang berbasi Eco-Culture “ Studi Ksus Curug Dago

Tito GUnawan W, MSA

Dr. rahadhian PH

Ir. Amirani R, MT

Caecelia W, ST,MT

 Memberikan wawasan dan masukan yang berkaitan dengan desain arsitektur kawasan pariwisata kepada Masyarakat dan Pemerintah yang merujuk pada nilai- nilai Eco-Culture    Konservasi-revitalisasi

3

Pengembangan Kawasan Hutan Wisata Penggaron Kabupaten Semarang Sebagai Kawasan Ekowisata

Temmy Fatima Sary

kebijakan bagi Pemerintah

Kabupaten Semarang dan Perum Perhutani dengan KBM WBU, yaitu dengan melakukan control dan

pengawasan , menandakan sosialisasi kepada pihak swasta dan masyarakat mengenai pengembangan obyek

wisata dan legistimasi konsep zonasi perlindungan dan pemanfaatan kawasan Hutan Wisata Penggaron.

Dari data state of the art penlitian – penelitan di atas banyak meneliti tentang pengembangan obyek wisata baik dari segi pengembangan hutan wisata memallui stake holder dan pemerintah, pembuatan sirkulasi hutan. Belum ada yang meneliti seberapa besar peranan pendidikan bagi pengembangan ekowisata hutan wisata. Untuk  inilah penelitian nantinya akan berfokus kepada pengembangan ekowisata berbasi hutan melaluui pendidikan.

Daftar Pustaka

Blamey, R.K. 2001. Principles of Ecotourism. Artikel dalam buku : The Encyclopedia of Ecotourism, editor : David B. Weaver. CABI Publishing. New York.

Damayanti, A. dan Handayani, T. 2003. Peluang dan Kendala Pengelolaan Ekowisata Pesisir Muara Gembong Kabupaten Bekasi. Makalah yang disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan Kongres Ikatan Geograf Indonesia (IGI), pada tanggal 17-18 Oktober 2003, di Singaraja.

Fandeli, C. 2000. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata. Artikel dalam buku :Pengusahaan Ekowisata, editor : Chafid Fandeli. Fakultas Kehutanan UGM bekerjasama dengan Unit Konservasi Sumberdaya Alam Yogyakarta. Yogyakarta.

Fennel, D.A. 1999. Ecotourism : An Introducion. Cetakan Pertama. Routledge. London.

Gale, T. dan Hill, J. 2009. Ecotourism and Environmental Sustainability : An Introduction. Artikel dalam buku : Ecotourism and Environmental Sustainability, Editor : Jennifer Hill dan Tim Gale. Ashgate Publishing Limited. Farnham (UK).

Http://www.fwi.or.id/publikasi/potretkeadaan-hutan-indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *