Analisis Demand Masyarakat Eropa bagi Standar Manajemen Pengembangan MICE di DKI Jakarta

By: Novita Delima Putri

PENDAHULUAN

Istilah MICE di Indonesia dikenal juga dengan nama wisata konvensi, kegiatan wisata konvensi ini merupakan bagian dari kegiatan pariwisata, karena banyak sekali menggunakana fasilitas pariwisata dalam pelaksanaannya, sehingga kegiatan ini merupakan kegiatan yang berkarakteristik padat karya, memberikan kontribusi baik dari sisi penyediaan tenaga kerja maupun dalam memberikan devisa negara.

Perkembangan kegiatan Convention merupakan bagian dari industri pariwisata MICE (Meeting, Conference, Incentive, Exhibition) masa kini telah memberikan “warna dalam kegiatan bisnis industri pariwisata dunia”, kegiatan konvensi sangat beragam terhadap konstribusinya terhadap kegiatan pariwisata, yang sangat menonjol adalah identik dengan pemberian pelayan/services. MICE dan bisnis pariwisata merupakan bisnis dengan high-quality dan high-yield, yang memberikan kontribusi tinggi secara ekonomi terlebih bagi negara berkembang karena dalam pelaksanaannya banyak sekali menggunakan fasilitas pariwisata. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang berkarakteristik padat karya, memberikan kontribusi baik dari sisi penyediaan tenaga kerja maupun dalam memberikan devisa negara.

Saat ini, Indonesia sudah berkembang menjadi salah satu negara tujuan bisnis dan wisata. Hal itu dibuktikan dengan perolehan data dari Statistical Report on Visitor Arrivals to Indonesia 2008–2010, yang menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara untuk pertemuan, insentif, konvensi dan pameran atau meeting, incentive, convention, exhibition (MICE) mencapai 40.09% sementara untuk wisatawan liburan 53,15% dan lainnya 6,76%.

 Predikat Jakarta sebagai salah satu kota destinasi MICE tentu tidak ingin tertinggal dengan provinsi Bali dan Batam yang sudah memanfaatkan peluang wisata MICE ini yang terkait dengan kegiatan konvensi dan eksibisi. Potensi penyelenggaraan MICE di Jakarta besar. Dimana Sarana dan fasilitas yang ada untuk memenuhi kebutuhan MICE diselenggarakan tersedia di daerah Jakarta, seperti halnya convention hall yang ada di beberapa wilayah DKI Jakarta.

METODE

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder, dengan ruang lingkupnya yaitu menganalisis demand masyarakat eropa dari standar manajemen pengembangan MICE di DKI Jakarta. Maka, tempat penelitian dalam penelitian ini meliputi data-data tentang analisis permintaan , standar manajemen MICE dan pengembangan MICE di Jakarta Data- data ini berdasarkan data literature yang didapat dari beberapa sumber yaitu Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif , DitjenPen dan ICCA serta studi kepustakaan.

PEMBAHASAN

MICE

Menurut Pendit (1999:25), Mice diartikan sebagai wisata konvensi, dengan batasan : usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan pameran merupakan usaha dengan kegiatan memberi jasapelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendikiawan dsb) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.

Sedangkan menurut Kesrul (2004:3), Mice sebagai suatu kegiatan kepariwisataan yang aktifitasnya merupakan perpaduan antara leisure dan business, biasanya melibatkan sekelompok orang secara bersama-sama, rangkaian kegiatannya dalam bentuk meetings, incentive travels, conventions, congresses, conference dan exhibition

Pertama, meeting merupakan rapat atau pertemuan sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah asosiasi, di mana perusahaan yang mempunyai kesamaan minat dengan tujuan dan kepentingan membahas suatu permasalahan bersama.

Kedua, incentive mengacu pada perjalanan insentif yang merupakan suatu kegiatan perjalanan yang diselenggarakan oleh suatu perusahaan untuk karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan penghargaan atas prestasi mereka yang berkaitan dengan penyelengaraan konvensi yang membahas perkembangan kegiatan perusahaan yang bersangkutan dan/atau kegiatan pameran.

Ketiga, convention, yaitu pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendekiawan, profesional dan sebagainya) untuk mambahas masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama, biasanya dengan jumlah peserta banyak.

Keempat, exhibition, yaitu bentuk kegiatan mempertunjukkan, memperagakan, memperkenalkan, mempromosikan, dan menyebarluaskan informasi hasil produksi barang atau jasa maupun informasi visual di suatu tempat tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk disaksikan langsung oleh masyarakat dalam meningkatkan penjualan, memperluas pasar dan mencari hubungan dagang

Perkembangan MICE di Indonesia

Indonesia telah mulai diperhitungkan oleh pasar wisata MICE sebagai salah satu tempat diselenggarakannya event MICE. Hal ini dapat dilihat dari sejumlah kegiatan besar bertaraf internasional yang mulai diselenggarakan di Indonesia sebagai bentuk kepercayaan masyarakat dunia terhadap Indonesia. Wisata MICE di Indonesia semakin berkembang karena keadaan pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan yang kian membaik. Keadaan ini menyebabkan meningkatnya ketertarikan investor asing maupun lokal untuk berinvestasi dalam menyelenggarakan event maupun hanya sekedar berpartisipasi sebagai peserta dalam suatu event MICE (DitjenPen, 2011). Pemerintah Indonesia juga merumuskan kebijakan untuk mendukung perkembangan wisata MICE di Indonesia.

Dalam kebijakan tersebut pemerintah telah menetapkan 10 kota utama dan 3 kota yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai tujuan MICE di Indonesia. Sepuluh kota utama tujuan wisata MICE di Indonesia,yaitu: Medan, Padang/Bukit Tinggi, Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makasar dan Manado. Sedangkan 3 daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata MICE adalah Palembang, Lombok dan Balikpapan. Selain kota-kota yang telah disebutkan tersebut, tidak menutup kemungkinan bagi kota-kota lain di Indonesia untuk dapat menjadi daerah tujuan wisata MICE di mana Pemerintah Daerah memiliki peran yang sangat penting dalam upaya untuk mengembangkan wisata MICE di daerah masing-masing. Perkembangan wisata MICE di Indonesia juga didukung oleh perkembangan agresif industri perhotelan yang memungkinkan adanya hotel disetiap ibukota provinsi sehingga kegiatan MICE berskala nasional bahkan internasional dapat diselenggarakan di ibukota-ibukota provinsi (DitjenPen, 2011).

Trend perkembangan wisata MICE di Indonesia kedepannya akan semakin membaik mengingat trend meeting internasional yang cenderung terus meningkat,dimana kegiatan meeting masih didominasi oleh bidang medis (ICCA, 2012). Peningkatan trend MICE di Indonesia juga dipengaruhi oleh kegiatan MICE nasional yang telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Keadaan ini dikarenakan tidak hanya pelaku bisnis, asosiasi dan dunia pendidikan yang meramaikan kegiatan MICE nasional akan tetapi juga pemerintah serta partai politik (DitjenPen, 2011). Berdasarkan data ICCA Statistics Report bahwa terlihat ada peningkatan trend MICE yang terjadi diberbagai negara dari tahun 2001 sampai dengan 2010 (lihat Tabel 1.1).

 

Tabel 1.1 Jumlah Meeting per Negara di Dunia Tahun 2001 – 2010

Dalam kurun waktu 2001 – 2010 tersebut Indonesia telah mengalami pertumbuhan jumlah pertemuan (meeting) sebesar 10,57%, yaitu dari 24 meeting pada tahun 2001 menjadi 64 meeting pada tahun 2010. Dari tabel tersebut juga terlihat bawah trend pertumbuhan meeting di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan jika dibandingkan dengan negara-negara yang sudah berkembang seperti Amerika Serikat (DitjenPen, 2011).

Tabel 1.2 Perkembangan Negara-negara yang memiliki Kuantitas Penyelenggaran MICE Bersakala Internasional

Melihat tabel perkembangan negara-negara yang memiliki kualitas penyelenggaraan MICE berskala Internasional rentang waktu – 2003 – 2007 dengan pasar utama Indonesia terbanyak adalah Eropa yaitu Jerman dan Italia.

Perkembangan MICE di Jakarta

Jakarta sebagai salah satu kota pariwisata di Indonesia memiliki sarana, prasarana dan fasilitas yang lengkap . Mulai dari obyek wisata yang beragam , gedung pertemuan dan pertunjukan , hotel , taman rekreasi hijau, , pusat perbelanjaan , sarana pendidikan dan kebudayaan, ragam jenis hiburan dan transportasi. Jakarta selain Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia , juga merupakan kota pemerintahan dan sekaligus merupakan kota perdagangan serta juga industry. Jakarta juga memiliki potensi wisata. Potensi tersebut dimulai dari wisata bahari, wisata kuliner, wisata hiburan dan rekreasi , wisata spa, wisata heritagewisata golf dan wisata belanja. Salah satu potensi wisata yang meningkat pertumbuhannya di Jakarta adalah wisata MICE ( meeting, incentive, Convetion,Exhibition, dan Event).

Jakarta merupakan destinasi wisata MICE yang terlengkap dan pertama di Indonesia. Terbukti dari karena Jakarta memiliki ruang untuk pameran,  ruang konferensi, dan meetig mulai dari ukuran 2000 m2 hingga 100.000 m2. Selain ruang untuk keperluan MICE yang sudah ada , terdapat pula prasarana pendukung lainnya seperti hotel, berbintang dengan standar internasional yang menawarkan layanan untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaran MICE ditambah dengan kapasitas ballroom yang mampu menampung ratusan orang.

Gambal 1.1 . Tiga Destinasi utama yang menjadi Tujuan Wisata MICE

Sumber : ICCA 2007

Dari grafik pie diatas menunjukkan bahwa Jakarta adalah urutan kedua terbesar dilakukan penyelenggaraan MICE di Indonesia. Banyaknya penyelenggaran MICE di Jakarta di karenakan Jakarta mempunyai banyak sarana  dan prasarana diadakannya MICE. Sarana Wisata MICE yang ada di DKI Jakarta antara lain :

  • Ancol sebagai salah satu tempat wisata MICE terbaik memiliki fasilitas yang lengkap, sarana rekreasi Eco Park yang sering juga di jadikan pameran – pameran nasional , kemudian ruang pertunjukkan berkelas internasional yaitu Mata Elang Internasional Stadium (MEIS) ancol juga memiliki fasilitas convention seperti Candi Bentar, Auditorium Ancol Beach City, dan yang terbaru adalah Ecovention .
  • Taman Mini Indonesia Indah mememliki beberapa sarana untuk penyelenggaraan MICE dan pameran – pameran berekals nasional atau pun internasional.
  • Jakarta Convention Center ( Balai Sidang Jakarta ) yang terletak di Gelora Bung Karno Center memiliki balai yang memiliki 5.000 tempat duduk, dan juga balai sidang seluas 3.921 m². JCC memiliki 13 ruangan pertemuan dengan berbagai ukuran. JCC terhubung dengan Hotel Hilton Jakarta melalui terowongan bawah tanah. JCC sering digunakan Untuk kegiatan MICE dari berbagai Negara di dunia.
  • Jakarta International Expo terletak di Kemayoran Jakarta Pusat banyak digunakan untuk penyelenggaraan kegiatan MICE baik berskala nasional maupun international.
  • Hotel – hotel berbintang 5 yang banyak juga digunakan sebagai MICE dan mempunyai kapasitas MICE yang memadai untuk diselenggarakannya MICE.

Gambar 1.2 Tingkat Partisipasi terhadap Kegiatan MICE di Jakarta

Sumber : ICCA

 

               Dari gambar grafik diatas ditunjukkan bahwa kegiatan MICE dengan Conventions lebih banyak di selenggarakan di Jakarta.Ini dikarenakan sarana conventions yang ada di Jakarta memiliki standard an kualitas internasional.

Kekuatan dan Kelemahan MICE di Jakarta

Kekuatan

  • Banyak Pilihan lokasi dengan berbagai fasillitas
  • Variasi makanan dan akomodasi
  • Tumbuhnya fasilitas konferensi dan pameran
  • Variasi venus dan fasilitas yang dapat disesuaikan dengan Budget
  • Jakata merupakan Ibukota Negara Kesatuan republic Indonesia sekaligus Kota Metropolitan

Kelemahan

  • Pelayanan Kurang Memadai
  • Faktor keamanan dalam negeri dan keselamatan
  • Informasi tertinggal di banding Negara tetangga
  • Biro Kovensi belum berfungsi optimal
  • SDM banyak yang kurang memadai
  • Implementasinya standar manajemen yang yang sudah ditetapkan tidak berjalan dengan semestinya

Standar Manajemen MICE

Untuk mendorong sektor wisatawan MICE, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengeluarkan Standar Usaha MICE melalui Peraturan Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 28 Tahun 2014 tentang Standar Usaha Jasa Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konfrensi dan Pameran. Tujuan dikeluarkannya standar ini seiring dengan perkembangan pesat Usaha Jasa Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi, dan Pameran dan dalam rangka peningkatan mutu produk, pelayanan dan pengelolaan serta daya saing Usaha Jasa Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi, dan Pameran.

Oleh karena itu, penyelenggaraan Usaha Jasa Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi, dan Pameran wajib memenuhi standar usaha. Selain itu, Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Nomor KM.108/HM.703/MPPT.91 tentang Ketentuan Usaha Jasa Konvensi, Perjalanan Insentif Dan Pameran sudah tidak sesuai dengan perkembangan pariwisata saat ini, sehingga perlu diganti. Standar Usaha MICE terdiri dari :

  • produk, yang terdiri dari 2 (dua) unsur dan 8 (delapan) sub unsur;
  • pelayanan, yang terdiri dari 1 (satu) unsur dan 8 (delapan) sub unsur;
  • pengelolaan, yang terdiri dari 4 (empat) unsur dan 18 (delapan belas) sub unsur

Analisis Demand Masyarakat Eropa

Alanisis Permintaan (demand) umumnya diartikan sejumlah barang atau jasa yang ingin dibeli oleh pelanggan dan mampu untuk dibeli dengan harga tertentu pada waktu tertentu. Analisis permintaan dapat dilakukan dengan pendekatan analisis seperti trend, musim kunjungan, siklus, dan peramalan.       Dari trend analisis demand maka akan bisa dilihat  mengapa masyarakat Eropa berkunjung dan melakukan wisata MICE  ke Jakarta.

  • Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia bisa terlihat pada table di bawah ini :

 

 Tabel 1.2 Trend kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia

Pada table diatas terlihat bahwa wisatawan dari Eropa menduduki urutan  kunjungan ketiga besar setelah Asean dan Asia Pasifik ke Indonesia. Terlihat dari tahun 2008 hingga tahun 2013 Kunjungan wisatawan Eropa yang berkunjung ke Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan tiap tahunnya.

  • Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung di DKI Jakarta

Tabel 1.3 Trend kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Jakarta

Dari table di atas kunjungan Masyarakat Eropa ke Jakarta melaui pintu masuk perkembangan dari tahun 2009 hingga 2013 mengalami peningkatan yang signifikan., walaupun Negara-negara asia dan asean masih menduduki kunjungan terbesar yang melakukan kunnjungan ke Jakarta.

Analisis Demand Masyarakat Eropa Terhadap Pengembangan MICE Jakarta

Dari data trend kunjungan wisata MICE masyarakat Eropa ke Jakarta dan kemudian melalukan kegiatan MICE di karenakan beberapa factor yang sudah terpenuhi saat wisatawan ini dating ke Jakarta melakukan kunjungan MICE. Faktor- factor yang sudah terpenuhi  antara lain

Keamanan

Semua konsumen MICE mengingin kan adanya jaminan keamanan, baik dari pemerintah maupun oleh penyelenggara. Dalam setiap event internasional perlu adanya fasilitas pengamanan yang ketat khususnya di venue dan akomodasi. Selain itu tempat yang menjadi bagian pendukung kegiatan juga harus dijaga keamaannya misalnya di bandara dan tempat hiburan malam selamaacara berlangsung.

Harga

Harga yang bersaing dengan fasilitas yang lengkap menjadi salah satu kriteria bagi para konsumen MICE dalam menentukan daerah tujuan kegiatannya. Fasilitas hiburan yang memadai serta fasilitas pendukung diluar kegiatan utama menjadi nilai tambah suatu daerah dalam menarik konsumen MICE.

Kemudahan Akses

Daerah destinasi MICE membutuhkan fasilitas aksesibilitas dan transfer baik dari darat, laut maupun udara. Transportasi yang mudah aman, efisien dan bebas hambatan mempermudah para konsumen MICE dalam menjangkau kawasan tersebut.

Fasilitas Terpelihara

Fasilitas yang terjaga dengan baik pada venue pelaksanaan MICE akan membuat konsumen MICE nyaman untuk tinggal lebih lama. Berbagai fasilitas yang disediakan pada venue dengan standar internasional, resort kelas dunia dan tempat

hiburan yang menarik.

Infrastruktur

Dalam penyelenggaraan event internasional, dibutuhkan fasilitas infrastruktur langsung seperti venue meeting dan konvensi yang berstandar internasional dengan jumlah kapasitas yang memadai serta terintegrasi dengan hotel dan tempat hiburan. Infrastruktur pendukung bagi para konsumen untuk menuju ke venue penyelenggaraan sangat penting. Selain mudah untuk di akses, infrastruktur berstandar internasional sangat diperlukan diantaranya, bandara yang mampu menampung pesawat besar dan adanya jalur langsung ke kota internasional.

Atraksi waktu senggang

Program hiburan selama penyelenggaraan kegiatan menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen MICE. Untuk mengilangkan kejenuhan mengikuti acara, pada umumnya diselingi dengan kegiatan hiburan, diantaranya pertunjukan seni dan budaya maupun mengunjungi objek wisata.

Bahasa

Untuk mempermudah para konsumen MICE dalam mengikuti agenda kegiatannya, maka perlu adanya tourism hospitality and MICE staff yang bisa berbahasa asing. Tergantung dengan asal konsumen MICE tersebut. Penyedia jasa MICE sudah seharusnya menyediakan profesional yang mampu berbahasa asing.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pengembangan MICE di Jakarta bisa berkembang dengan baik apabila factor permintaan dari wisatawan MICE terpenuhi oleh penyelenggara.Keberhasilan di implementasikan dari standar manajemen usaha MICe yang telah ditetapkan oleh badan Standarisasi Nasional sehingga factor – factor yang menjadi pokok utama dari demand wisata sudah terpenuhi. Keberhasilan pasar MICE di Jakarta yang dari data yang ada ada banyak diminati wisatawan dari Eropa tidak lepas dari implementasi yang diharapkan, seperti keamanan yang ditamakan, harga yang yang bisa diseeuaikan dengan budget, infrakstruktur yang lengkap yang banyak dimiliki leh Jakarta bahkan berkelas internasional, kemudahan akses yang membuat nyaman wisatawan masyarakat eropa, hiburan – hiburan yang diberikan , bahkan sumber daya manusaia dalam meliterasi bahasa dengan penggunaan guide atau yang professional.Tentunya semua tidak lepas dari kehadiran dan peran pemerintah sebagai pemberi kebijakan dan regulasi agar kegiatan MICE berjalan dengan baik.

Saran

Kerja sama yang kuat antara pemerintah dan sector swasta , regulasi pembuatan-pembuatan program, dan implementasinya. mempositioning Jakarta sebagai destinasi wisata MICE yang berkelas dengan promosi yang intensif. Perlu dilakukan Penguatan akan implementasi standar manajemen agar terciptanya wisata MICE yang berkelas Perbaikan dan penguatan infrastruktur dan fasilitas MICE harus lebih ditngkatkan. Peningkatan mutu SDM agar lebih ditingkatkan lagi

 

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal   Ekonomi dan Pariwisata Nomensen , Yunasfi, 2008 :  “ANALISIS SUPPPLY DAN DEMAND PENGEMBANGAN  EKOWISATA PULAU-PULAU KECIL KAWASAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG

Jurnal Sosio Humaniora LP2M Universitas Meru Buana Yogyakarta , M.Agus Prayudi, 2011 : “BISNIS MICE SEBAGAI POTENSI UNGGULAN PARIWISATA DI YOGYAKARTA”.

Jurnal Universitas Udayana Bali, Budi Mulyana, 2008 : “Pengembangan Kota Bogor Sebagai Destinasi Pariwisata Internasional”.

Jurnal Warta Expo Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, 2011: “Potensi MICE Di INDONESIA.

Jurnal Online Fakultas Ekonomi UI, M.Erwin Nandita , 2009 : “Pemasaran Strategi Badan Usaha Jasa Pertemuan, Insentif, dan Pameran pada Indrusti MICE dalam Menghadapi Pasar Jasa Global

Jurnal Riptek Vol 5, NO 11tahun 2011 : “Startegi Pengembangan Kota Semarang Menuju Kota MICE , Upaya percepatan Pembangunan Menuju Kota Semarang Setara

Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam, 2007 , Yudy Sunantri : Analaisis Pengaruh Kunjungan Wisatawan yang Menjadikan Batam Sebagai Kawasan Pariwisata MICE

Jurnal, Politeknik Medan, 2013, Edy Saputra Sitepu : “ Tinjauan Konsep Pengembangan Indrusti MICE di Kota Medan”

Jurnal,Perhotelan dan  Ni Luh Putu Agustini K, 2011 : “Meningkatkan MICE melalui Pendekatan Marketing In Venus dan Horizontal Marketing”

Jurnal Of Business dan banking , 2013, Yusak Anshori :”Peningkatan Keunggulan Bersaing Berbasis Knowledge Management Melalui Intellectual Capital dan Inovasi”

Jurnal Perhotelan dan Pariwisata 2013, I Ketut Sutapa “ “ Over Capacity Pembangunan Fasilitas Akomodasi Di Bali dalam Perspektif Ekonomi dan Bisnis “

Jurnal Ekonomi UNDIP, 2008 , Irma Afia Asalma & Indah Susilowati :” Analisis Permintaan MICE Kabupaten Kendal dengan Pendekatan Travel Cost”

Jurnal Ekonomi, Rani Aprilian 2009,: “ Analisis Permintaan dan Surplus konsumen MICE dengan Pendekatan Metode Biaya Perjalanan “

Jurnal , Marthalena Ginting dan Pindi Patana :”Analisis Supply dan Deman Potensi Ekowisata di Kawasan Danau Linting, Desa Sibunga , Bunga Hilir Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang.

Jurnal, Rekayasa Sipil , 2012 , Sriyanti Andayani, M,Ruslin Anwar, Antariksa : “ Pengembangan      Kawasan Wisata Balekambang kabupaten Malang

Jurnal, Ekonomi FISIP Pekan Baru 2008, Abdul Hafiz Gunawan : “ Strategi Pemerintah dalam Meningktakan Industri Pariwisata Indonesia Melalui Visit Indonesia Year 2008”

Jurnal Ekonomi Binus , 2012 , Prames Kania Sumaryanto :” rekomendasi Strategi BIsnis MICE dalam Meningkatkan daya saing Travel pada PT Jakarta TOURISINDO”

Jurnal Epigram , 2011, Tuty Herawati dan Djuni Akbar :” Kajian Pengembangan Kota Wisata Solo dalam Rangka Meningkatkan Daya SAing Daerah”

Jurnal FISIP 2014 , Damara Saputra Siregar, :” Pelaksanaan Manajemen MICE di Hotel Pangeran Pekanbaru

Jurnal Ekonomi dan Pariwisata Binus, 2012, Fabella Anjani Hidayat ;”Business Startup Jasa Penyelenggara MICE PT. Diploma Arthakama.

Nyoman S. Pendit. 1999. Wisata MICE Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

http://www.scribd.com/doc/238943170/Permen-Nomor-28-Tahun-2014-Tentang-Standar-Usaha-Mice

Drimawan , Deni. 2011 “Multi Efek dari Bisnis MICE” . Deni drimawans Blog  (online)

Noor, Ani 2012. Globalisasi Industri Mice” . Penerbit Alfabet

Lawson , Fred. Congress Convention & Exbihition . Arhitectural Press. USA ICCA 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *